Main Menu

Garin Nugroho: Silat Jadi Sumber Seni Pertunjukan Hingga Film

Rosyid
15-08-2017 18:41

Pertunjukan silat dalam seminar Kajian Silat di Universitas Sanata Dharma (GATRAnews/Arief Koes/HR02)

Yogyakarta,GATRAnews - Sutradara  Garin Nugroho menilai silat menjadi sumber referensi bagi seni pertunjukan hingga film. Garin menilai, banyak film yang diproduksi di Indonesia, Eropa, Amerika, Timur Tengah, Hongkong, hingga India sukses karena memasukkan unsur silat.

Dalam seminar menyambut festival "Pencak Silat Malioboro V 2017: Silat Seni, Seni Silat’’ di Universitas Sanata Dharma, DI Yogyakarta, Selasa (15/8), Garin melihat silat memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam dunia perfilman.

“Sebenarnya esensi silat sebagai seni sekaligus bela diri telah lama menjadi referensi bagi seni pertunjukan sampai film dan itu berlangsung sampai sekarang,” kata sutradara film Daun di Atas Bantal dan Setan Jawa tersebut.

Dalam film, selain aspek komedi dan sandiwara, aspek silat yang menampilkan pertunjukan laga menjadi hiburan tersendiri. Apalagi, menurut Garin, awal abad 20 menjadi era multikultur saat seni pertunjukan menggabungkan bentuk seni lama dan baru.

Garin melihat, Hongkong bisa menjadi contoh nyata suksesnya film bertema laga. Hingga saat ini perfilman Indonesia belum mampu menyusulnya.

Hal ini karena dalam sejarah perfilman Indonesia, seni silat belum mendapat porsi banyak. Adegan laga dalam film hanya sebagai penyalur mempopulerkan silat dan bukan menjadi esensi film tersebut.

Garin menyebut sejumlah film seperti laga Indonesia bisa dibaca dari film-film seperti Si Pitung, Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, hingga The Raid. Untuk film The Raid yang dibintangi pesilat Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan, Garin mengatakan sukses memasukkan unsur silat dan menggambarkan situasi Indonesia.

"Film The Raid ini mengisahkan kondisi kekacauan seperti tahun 1998-1999 saat demokrasi baru tumbuh," kata Garin yang justru belum pernah membesut film eksyen.

Selain Garin, hadir sebagai pembicara dosen Prodi Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padang Panjang, yang juga guru silat dan koreografer, Emri Rangkayo Mulia Aja dan pesilat perguruan Budaya Indonesia Mataram (BIMA) Yogyakarta, Eko Pece.

Seminar ini bagian dari Festival Silat Malioboro 2017 yang diharap menjadi langkah awal mengembangkan silat melalui  berbagai wacana.



Reporter: Arif Koes Hernawan
Editor: Rosyid

Rosyid
15-08-2017 18:41