Main Menu

KPAI: Film ''Penghianatan G30 S/PKI'' Tak Layak Ditonton Anak-Anak

Iwan Sutiawan
18-09-2017 13:19

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (Dok.GATRA/HR02)

Jakarta, GATRAnews - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, menilai film "Penghianatan G30 S/PKI" yang diminta diputar lagi oleh beberapa kelompok masyarakat tidak layak ditonton oleh anak-anak.


"Film tersebut tidak layak ditonton oleh anak-anak. Pertama, dalam film tersebut muncul beberapa adegan sadis dan penuh kekerasan, yaitu ketika para perwira militer diculik dari rumahnya," kata Retno.

Adegan tersebut mulai dari ditembaknya Jenderal Ahmad Yani oleh pasukan Tjakrabirawa hingga darah yang menetes dari tubuh Ade Irma Nasution, termasuk adegan saat anggota Gerwani menyilet salah satu wajah korban. 

"Adegan kekerasan, baik kekerasan verbal, apalagi kekerasan fisik berupa penyiksaan dan pembunuhan akan menimbulkan trauma buruk pada anak-anak. Hal ini membahayakan kondisi psikologis anak-anak," ujarnya. 

Alasan kedua, lanjut Retno, dalam film tersebut banyak diksi yang juga mengandung kekerasan, salah satunya pernyataan "Darahmu halal jenderal", dan diksi lain yang kemungkinan besar tidak dipahami anak-anak. 

Ketiga, masih banyak film-film sejarah yang lebih mendidik dan layak disaksikan anak-anak. Film sejarah sejatinya harus membangkitkan rasa nasionalisme dan menstimulus cara berpikir kritis pada anak-anak. 

"Film-film perjuangan dan biografi para pahlawan bangsa Indonesia ada banyak dan layak dipelajari serta ditonton oleh anak-anak," katanya.  

Karena pertimbangan ketiga hal tersebut, KPAI menghimbau para orangtua sebaiknya ikut mencegah anaknya menonton Film "Penghianatan G 30 S/PKI" tersebut demi kepentingan terbaik bagi anak-anak. 

KPAI menyampaikan pandangan tersebut setelah sejumlah kelompok masyarakat meminta untuk memutar kembali Film "Penghianatan G 30 S/PKI" pasca-isu kelahiran komunisme merebak akhir-akhir ini. 

Film garapan sutradara Arifin C Noer itu selama era Orde Baru (Orba) menjadi tontonan yang wajib diputar setiap tanggal 30 September. Pada masa Reformasi bergulir, film itu akhirnya berhenti tayang di layar kaca. 


Reporter: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
18-09-2017 13:19