Main Menu

Puti Guntur: Tuduhan Negatif “Naura dan Genk Juara” Mengada-Ada

Wem Fernandez
23-11-2017 12:05

Politisi PDI Perjuangan Puti Guntur Soekarno. (ANTARA /Agus Bebeng/FT02)

Jakarta, Gatracom – Film anak-anak “Naura dan Genk Juara” menuai kontroversi karena dinilai mendiskreditkan agama tertentu. Namun, penafsiran berbeda datang dari Puti Guntur Soekarno.


Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang membidangi Budaya itu, film ini justru menampilkan nilai-nilai yang patut ditiru oleh seluruh masyarakat; kekompakan, kerja sama dan keberanian.

"Saat menonton film itu, saya lebih melihat hal-hal yang positif sekaligus menghibur. Sama sekali tidak berpikir hal yang negatif seperti itu. Tuduhan itu mengada-ada," ujar dia saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (23/11).

Puti Guntur juga mendukung penjelasan dari Ketua Lembaga Sensor Film, Ahmad Yani yang menegaskan, tak relevan film Naura ini dikaitkan dengan isu mendiskreditkan agama tertentu. Film ini justru bentuk kebebasan ekspresi dan berkreasi.

Puti menejelaskan, kalau mau mengimbangi wacana sebaiknya dibuat film yang lebih bagus lagi terutama untuk anak-anak. Contohnya selain Naura dan Gank Juara, beberapa waktu lalu Puti mengaku melihat cuplikan film kartun animasi judulnya Knight Kris.

"Semua animatornya asli anak-anak muda Indonesia. saya kira itu lebih sehat dalam iklim yang kompetitif untuk perkembangan karakter peradaban bangsa," jelas Puti yang juga politisi satu-satunya cucu dari Proklamator Soekarno itu.

Dikatakan, Naura sama seperti halnya film “Petualangan Sherina” yang dulu sangat digandrungi anak-anak. Lagu-lagu dalam film itu edukatif, membangun kesadaran berbuat baik, budi pekerti, cinta alam, cinta Indonesia dan cinta Tuhan.

"Kita perlu menjadi penonton kritis tetapi juga penting sebagai orang tua dan orang dewasa yang bijaksana mengapresiasi kreativitas dan potensi anak bangsa," katanya.

Dalam pernyataan resmi Lembaga Sensor Film, Naura dan Genk Juara merupakan film musikal. Berkisah tentang rombongan anak-anak sekolah yang cerdas dan kreatif melakukan kegiatan di sebuah hutan konservasi. Tiba-tiba datanglah tiga orang penjahat melakukan pencurian hewan dari kandang konservasi. Ternyata dalang komplotan pencurian itu adalah petugas penjaga konservasi itu sendiri.

Seperti biasa penjahat itu berpenampilan agak kasar dengan muka memiliki rambut bercambang. Satu di antaranya memakai celana pendek bukan celana cingkrang. Oleh karena itu jauhlah dari gambaran saudara-saudara kita yang sering dipandang sebagai radikal teroris, karena jenggot dan model celananya.


Reporter: Wem Fernandez
Editor: Arief Prasetyo 

Wem Fernandez
23-11-2017 12:05