Main Menu

Festival Film Buruh Migran 2017 Tak Ada Pemenang, Mengapa?

Basfin Siregar
27-12-2017 18:01

Para peraih penghargaan khusus atau special mention Festival Film Buruh Migran 2017. (Gatra.com/PPAGM Unsoed)

Purwokerto, Gatra.com – Tiga buah film dokumenter dan satu buah video iklan layanan masyarakat (ILM) meraih penghargaan khusus (special mention) Dewan Juri Festival Film Buruh Migran 2017, Pusat Penelitian Gender Anak dan Pengabdian Masyarakat (PPGA-PM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).

Seorang anggota dewan juri, Muhammad Taufiqurrahman mengatakan, dewan juri memutuskan untuk tak menetapkan seorang pun pemenang di dua kategori festival film itu lantaran berbagai pertimbangan. Pertimbangan utamanya adalah karena puluhan film yang dibesut mahasiswa dan pelajar itu, tak ada satu pun peserta yang menyuguhkan riset mendalam. Cerita yang ada di film lebih banyak kisah personal. Secara keseluruhan, terdapat 52 film dan enam video yang masuk ke kepanitiaan.

"Rata-rata temanya seragam. Tidak mengungkap kritik sosial terkait persoalan buruh migran, hanya berputar di masalah mantan buruh migran dan keluarga buruh migran. Cerita yang diangkat pun datar, itu karena riset yang kurang mendalam,” katanya, Rabu (20/12).

Menurut dia, dari segi isi dan teknis, film yang dikirimkan peserta tidak memenuhi kualitas film yang bisa diunggulkan sebagai juara. Meski demikian,  Dewan Juri tetap mengapresiasi dalam bentuk penghargaan khusus.

Film dokumenter peraih Special Mention yaitu “Menanti Lestari” sutradara Muhammad Taufan Mahardika, IRStud, “Njogo” sutradara Ghozi, Sosiologi Unsoed dan “Tangan-tangan Tangguh” karya sutradara Anang Riyan Ramadianto, Social Movement Agent. Adapun pada kategori ILM yakni “Lindungi Buruh Migran” garapan Meiga Verani, A PLUS Production.

“Ke depannya, kami harapkan sebelum gelaran festival ini, para mahasiswa maupun pelajar berlatih untuk membuat film dokumenter dan video pendek. Tidak hanya untuk mengejar prestasi, tapi film itu bisa menjadi medium untuk menyampaikan pendapat, kritik bahkan mengungkap fenomena sosial," ujarnya.  

Sutradara film “Njogo”, Ghozi mengaku tidak menyangka filmnya mendapatkan penghargaan khusus dewan juri. Pasalnya, dokumenter garapannya itu dikerjakan untuk memenuhi tugas kuliah. “Sebenarnya film ini untuk tugas kuliah Media dan Masyarakat. Tapi kami coba kirimkan ke festival ini, ternyata malah mendapat penghargaan,” tambahnya.

Sementara, Ketua PPAGM Unsoed, Tyas Retno Wulan mengemukakan, kuantitas peserta even yang mengangkat tema buruh migran dan kesetaraan gender ini mengalami peningkatan pada tahun ketiga. Meski demikian, karya yang dikirimkan mengalami penurunan kualitas. 

“Saya tetap mengapresiasi para mahasiswa yang berani membuat film meski tidak menguasai multimedia. Mereka sudah bersusah payah membuat film,” terangnya. 

Selain pengumuman pemenang, juga digelar Pemutaran Film Dokumenter Pendek ''The Power of Children Left Behind'' karya tim penelitian humaniora yang dikepalai oleh Tyas Retno Wulan serta Diskusi Publik ''Generasi Millennial Melawan Trafficking'' yang menghadirkan pembicara Anis Hidayah

Reporter: Ridlo Susanto

Editor: Basfin Siregar

 

Basfin Siregar
27-12-2017 18:01