Main Menu

Jokowi Pun Tertarik Nonton Dilan 1990

Hendri Firzani
25-02-2018 20:16

Presiden Joko Widodo berbincang sebelum menonton film Dilan 1990 di Senayan City, Jakarta. (Dok. Biro Pers Setpres/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Presiden Joko Widodo, Minggu siang (25/2), menyempatikan diri mengunjungi bioskop di Senayan City, Jakarta Selatan. Ia bersama putrinya Kahiyang Ayu dan suami Kahiyang  Bobby Nasution  menonton film remaja berlatar tahun 1990 yang sedang nge-hits, "Dilan 1990"  

 

Kehadiran Presiden Jokowi membuat heboh pengunjung bioskop. Jokowi mengaku terkesan dengan film tersebut. Dalam instagramnya, Jokowi mengatakan ia tertarik nonton Dilan setelah banyak yang mention ke instagramnya untuk menonton film yang diperankan  Iqbal Ramadhan dan Vanesha Prescilla tersebut. Ia juga memuji film tersebut. "Ternyata memang keren, saya jadi teringat masa remaja," ujar Jokowi dalam instagramnya. 

 

Film Dilan memang menuai sukses besar. Sejumlah pemerhati film, memprediksi Dilan 1990 bakal menjadi film terlaris sepanjang sejarah  film Indonesia dengan penonton menembus 7 juta orang mengalahkan film "Warkop DKI Reborn" yang memiliki jumlah penonton hingga 6,8 juta orang. Fenomena film ini diulas lengkap oleh pemerhati film, Fajar Lukito kepada Gatra.com. Berikut ulasannya;  

--- 

“Milea, Kamu Cantik, tapi aku belum mencintaimu. Nggak tahu kalau nanti sore. Tunggu saja.”  Bisa jadi sebagian orang  berpendapat kalau itu adalah bualan lelaki yang agak norak. Tapi sebagian besar wanita yang mendengarkan ucapan  itu di layar lebar dari bibirnya seorang Dilan berpendapat itu adalah ucapan yang sangat romantis. 

 

Dan bukan sekali saja si Dilan menggunakan gombalan itu kepada Milea, entah itu disampaikan langsung, lewat surat yang dititipkan ke teman sekelasnya atau lewat gagang telepon umum yang masih menggunakan uang logam. Apapun media komunikasi yang tersedia di tahun 90-an, dengan menggunakan gombalan itu, akhirnya Milea pun terpikat dengan Dilan. Begitu pun masyarakat pencinta film Indonesia.

 

Terpikat oleh sebuah film tentang kisah kasih remaja, dengan Bandung di tahun 1990 sebagai latar belakangnya. Hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 minggu setelah release nya, film garapan Sutradara Fajar Bustomi ini berhasil membuat senyum tersipu lebih dari 5 juta penonton dengan lontaran gombalnya Dilan ke sang pujaan hati.  Dapat dihitung dengan jari film Indonesia yang bisa mencapai angka 5 juta penonton, tapi hanya “Dilan 1990” yang dapat menembus angka kramat tersebut dalam waktu tersingkat. 

 

Adalah Pidi Baiq yang pertama harus bertanggung jawab atas fenomena Dilan ini. Dia yang menulis  buku laris berjudul “Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990” di tahun 2014, dimana film ini disadur dari buku tersebut.  Hingga kini bukunya masih terus dicetak ulang dan menduduki peringkat buku terlaris. Selain itu, ada beberapa buku lanjutan “Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1991” dan seterusnya hingga“….Dilanku tahun 1995” dan entah  sampai tahun berapa dikemudian harinya. Tentu ini akan menjadi sumber sequel dari film-fim berikutnya. 

 

Untuk menyebut Pidi Baiq seorang novelist adalah terlalu sempit, karena dia adalah seorang multitalent dalam bidang seni.  Apapun dia lakukan untuk menyalurkan bakat seninya, dari menggawangi band indie “Panas Dalam”, membuat komik, pencipta lagu, seorang illustrator, hingga menghasilkan karya novel-novel yang digemari oleh anak-anak remaja saat ini.

 

Disela-sela itu semua, dia memberikan kelebihan waktu dan tenaganya untuk mengajar di Seni Rupa ITB.  “Saya adalah saya, yang saya lihat pada cermin”, begitu Pidi Baiq menjelaskan tentang kesederhanaan dirinya pada suatu saat.  Dari latar belakang tinggal di Bandung pada era 90-an tersebutlah yang menginspirasi lahirnya tokoh Dilan dengan segala kisah-kisah heroic dan cintanya sebagai remaja berseragam abu-abu. 

 

Di dalam buku, Dilan adalah seorang anak pemberani. Dia ketua genk motor di sekolahnya dengan julukan “Panglima Perang”, tapi dia juga anak yang pintar dan cerdas serta berprestasi. Keunikan lain dari tokoh Dilan ini adalah ke-nyelenehannya.

 

Tokoh Dilan memang berbeda dengan tokoh-tokoh lelaki populer dari era tahun 90-an yang selama ini publik ketahui.  Misalnya Lupus yang suksesnya juga berawal dari novel sebelum diangkat ke layar lebar, maupun Boy dari cerita radio dan film “Catatan Si Boy”. Dibandingkan dengan mereka, si Dilan seolah lebih apa adanya, sederhana dan setia pada kebenaran dan wanita idamannya.  Paduan karakter-karakter tersebut yang membuat pembaca segera jatuh hati pada Dilan.

 

Ditambah dengan tokoh-tokoh unik lainnya yang diciptakan oleh Surayah (panggilan Pidi Baiq di kalangan penggemarnya),  pembaca terhibur lewat plot sehari-hari dengan kisah-kisah menggelitik dan humor-humor yang segar. Formula sukses inilah yang juga dibawa ke layar lebar oleh Sang Sutradara dan Produsernya Ody Mulya Hidayat dari Falcon Pictures. 

 

Tidak ada yang  didramatisirkan  dalam kisah cinta antara Dilan dan Milea. Yang ada hanya perjalanan asmara anak-anak SMA yang sederhana pada jamannya.  Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla dua aktris muda yang memerankan Dilan dan Milea, juga tidak berlebihan dalam menerjemahkan kedua tokoh tersebut. Pun juga artis-artis pendukung lainnya.   Alur cerita yang mudah dimengerti bisa jadi salah satu kunci dari keberhasilan film ini. 

 

Sulit untuk menjelaskan dengan satu kata pengalaman yang didapat setelah menonton film ini karena penonton -tergantung dengan usianya,  mengalami berbagai macam sensasi.  Penonton dari generasi si Dilan tidak merasa terhina  dengan tontonan yang begitu sederhana.  Mereka  dibuat bernostalgia ke masa remajanya dengan segala keunikan permasalahan di sekolah dan di rumah, maupun dalam cara berkomunikasi pada saat itu.

 

Di sisi lain, generasi Now memperoleh suatu tontonan “sejarah” hubungan manusia yang mulai menghilang.  Surat-menyurat, telepon fixed-line adalah benda-benda sejarah yang sudah tergantikan oleh bermacam-macam digital gadget. Bahkan adegan dialoque sederhana antara anak-orangtua yang ada di film pun sudah suatu moment yang sulit dicari saat ini. 

 

Bagi para millenials bisa jadi ini adalah tontonan hiburan sekaligus referensi ke masa lalu yang asing, tapi menarik untuk dipelajari. Apa yang mereka lihat di film ini adalah keadaan yang antithesis dengan di dunia nyata saat ini. Saat ini semua serba cepat dan instant dengan bantuan teknologi, tapi sedikit memberi ruang untuk membangun hubungan yang real dengan sesama manusia. 

 

Sedangkan di Dilan 1990, memperlihatkan adanya masa dimana hubungan manusia harus dibangun dengan proses yang panjang untuk menghasilkan hubungan yang nyata. Dan ternyata proses itu tidak membosankan, melainkan justru menarik dan menghibur.   Bisa jadi salah satu alasan penonton jaman Now menyukai film ini karena kerinduan akan kisah cinta yang penuh romantika, yang membutuhkan adanya proses untuk mengambil hati seseorang yang diidamkan. 

 

Yang jelas, semua kalangan penonton dapat menikmati film ini karena kesederhanaan yang dapat dirasakan dari awal hingga akhir.  Kesederhanaan dan keunikan cerita, ditambah dengan kreatifnya si Dilan dalam merangkai kata-kata menjadikan daya tarik tersendiri. Adegan dan beberapa permainan kata-kata gombal Dilan begitu cepat beredar menjadi berbagai macam meme di sosmed, yang pada akhirnya membantu dalam memasarkan film ini.  

Sesuatu yang juga menarik untuk diamati adalah kesuksesan sebuah film tentang hubungan antar manusia di jaman purba berhasil dipasarkan oleh canggihnya berhubungan di era digital. Selain meme yang viral mempopulerkan film ini di media sosial, pihak produser pun gencar menginformasikan secara berkala pencapaian jumlah penonton sehingga publik seolah berlomba-lomba mengikuti euphoria menyaksikan film itu sendiri. 

Kalau boleh meramal, kita akan memperoleh posting viral tentang keberhasilan si Dilan 1990 ini hingga 7 juta penonton.  Tapi,  kita tidak perlu memikirkannya. Berat.... Biarkan produser saja yang memikirkannya. Tunggu saja. 

 


Editor: Hendri Firzani         

 

Hendri Firzani
25-02-2018 20:16