Main Menu

Bagaimana Black Panther Mampu Menjual Keragaman dan Mengubah Hollywood?

Birny Birdieni
04-03-2018 08:09

Black Panther. (Shutterstock.com/FT02)

Hollywood, Gatra.com- Untuk waktu yang lama, ada persepsi bahwa keragaman dalam film Hollywood tidak laku di luar negeri. Namun kemudian "Black Panther" dirilis awal bulan lalu dan menambahkan gagasan itu.

Film Marvel dengan hampir semua pemerannya hitam itu sukses memecahkan rekor. Dalam waktu dua minggu pertama di bioskop sudah melewati angka US$700 juta secara global.

Kesuksesan film ini menggarisbawahi temuan sebuah studi The University of California, Los Angeles (UCLA) mengenai The "Hollywood Diversity Report 2018" yang dipublikasikan sebelum rilis "Black Panther" 16 Februari lalu.

Studi dengan judul "Lima Tahun Kemajuan dan Kesempatan yang Hilang," ini menemukan bahwa industri Hollywood masih perlu melakukan pekerjaan yang lebih baik dengan perwakilan keragaman.

Riset tahunan ini melihat dari sisi staf di depan dan belakang kamera dari 200 rilis teatrikal sejak 2016. Juga 1.251 siaran televisi kabel dan platform digital dari musim 2015 hingga 2016.

Termasuk beberapa film profil tinggi tahun 2016 dengan pemain kulit hitam, yakni termasuk "Moonlight," "Fences" dan "Hidden Figures."

Hasil penelitian tersebut menunjukkan, Hollywood masih tertinggal dari penontonnya. Dimana industri ini pada umumnya harus berinvestasi dengan perekrutan yang mencerminkan populasi Amerika Serikat. Setidaknya mencakup hampir 40% minoritasnya dan setidaknya 50% perempuan.

"Temuan kami mengungkapkan bahwa, terlepas dari ras, penonton ingin melihat keragaman di layar," kata Direktur Penelitian dan Keterlibatan Warga untuk Divisi Ilmu Pengetahuan Sosial, Ana-Christina Ramón dirilis dari CNN, Minggu (4/3)

Salah seorang penulis studi tersebut ini menjelaskan bahwa hasil laporannya terus menunjukkan kalau keragaman dapat menjual. "Namun produk TV dan film terus menurun. Jadi penonton dibiarkan menginginkan lebih banyak representasi di layar yang mencerminkan dunia yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari mereka," ungkap Ana.

Studi tersebut menunjukkan bahwa Hollywood "meninggalkan uang di atas meja" karena gagal mengembangkan lebih banyak proyek dengan beragam pemain film. Sejak tahun 2016, sebanyak 21% sampai 30% film dengan pemain minoritas memiliki penjualan tiket box office global tertinggi dengan rata-rata pengembalian investasi tertinggi.

Sebaliknya, penelitian ini menemukan, film gulungan dengan pemain paling homogen menghasilkan keuangan termiskin.
Di sisi TV, pertunjukkan dengan keragaman terbesar ditunjukkan untuk mendapatkan peringkat lebih tinggi dimana tingkat keterlibatan media sosial lebih tinggi dari pemirsa di semua kelompok etnis.

Sayangnya, keterwakilan kaum minoritas dari tahun 2015 sampai 2016, jumlahnya tetap stagnan di beberapa daerah dan menurun di negara lain.


Editor : Birny Birdieni

Birny Birdieni
04-03-2018 08:09