Main Menu

Gabungan Film dan Performa ala Takashi Makino di Arkipel 2018

Flora Librayanti BR K
13-08-2018 17:35

Sinematografer Takashi Makino. (Dok.Arkipel/RT)

Jakarta, Gatra.com – Ratusan titik cahaya perlahan membesar dan berubah warna. Perlahan putih, lalu oranye, berakhir dalam kelamnya biru. Jangkauan sinarnya pun seolah melebar untuk kemudian meledak bersama dentuman bunyi keras. Alhasil, penonton terasa terserap dalam semesta yang luas.

“Space Noise 2”. Demikian sinematografer Takashi Makino menamai karyanya itu. Sebelumnya, pada 2013 lalu, pria kelahiran Tokyo tersebut telah membuat “Space Noise”.

“Proyek ini terus dikembangkan sampai sekarang,” katanya sebelum pemutaran berlangsung di Pusat Kebudayaan Jerman, GoetheHaus di Jakarta Pusat, Minggu (12/8) malam. Proyek yang ia sebut sebagai film performans tersebut merupakan bagian dari ARKIPEL Homoludens - 6th Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival 2018.

Makino menggunakan dua proyektor video HD. Hasilnya, cahaya yang memenuhi layar, melebar pula sampai ke kursi penonton. Dalam karyanya ini, ia memainkan sendiri musiknya dan memperluas pengalaman sinematik karena mencoba menyajikan pengalaman visual 3D.

Selain performa 25 menit tersebut, Makino turut pula memutarkan dua film pendeknya.

Film “Cinema Concret” (2015) merupakan visualisasi dari suara abstrak. Makino menjelaskan kalau penelitian sejarah Concrete Music telah dimulai oleh Pierre Schaeffer sejak dekade 1940-an. “Saya menemukan bahwa proses pembuatan Concrete Music benar-benar sama dengan gaya pembuatan film saya,” sebutnya.

Film kedua terinspirasi dari tulisan sang filsuf, Aristoteles. “On Generation and Corruption” (2017” merupakan karya abstrak yang menemukan dorongannya dalam bentrokan antara cahaya dan kegelapan. Film yang sepenuhnya terdiri dari gambar superimposed tersebut sebelumnya telah diputar di Festival Film Internasional Rotterdam 2017.


 

Editor : Flora L.Y. Barus

 

Flora Librayanti BR K
13-08-2018 17:35