Main Menu

Arkipel Hadirkan Film yang Memotret Suku Anak Dalam Jambi

Flora Librayanti BR K
14-08-2018 21:45

ARKIPEL Homoludens.(GATRA/Flora/re1)

Jakarta, Gatra.com – Dua orang bocah, Baasung dan Besangot, tanpa alas kaki dengan lihai melangkah diantara semak yang merambati kebun karet mereka. Pisau tumpul di tangan tak menghalangi mereka untuk menyadap kulit batang pohon karet yang sudah tak jelas lajurnya. Getah karet putih pun kembali mengalir ke batok yang sudah dipasang di masing-masing pohon.

“Mau coba?,” kata Besangot pada seseorang yang dari tadi membuntuti langkahnya dengan kamera. Sejurus kemudian, nampak kamera berpindah tangan ke si anak kecil. Wisnu Dewa Broto, yang merupakan sutradara sekaligus kameramen, mencoba menorehkan pisau yang sama di pohon yang berbeda dengan hasil gelak tawa si bocah. “Karena nggak pernah, makanya nggak bisa,” kata Baasung sembari mengomentari hasil karya mahasiswa lulusan Universitas Multimedia Nusantara itu.

Film berdurasi 17 menit 46 detik yang diberi judul “Rimba Kini” itu adalah rekaman Wisnu atas keseharian sejumlah anak dari Suku Anak Dalam yang mendiami kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, Tebo, Jambi.

“Film ini menegaskan pada kita tentang sejauh mana teknologi audiovisual menumbuh pada masyarakat kita. Ia tak lagi menjadi barang eksotik yang sakral, namun justru menjadi medium yang memungkinkan negosiasi posisi antara pembuat film dan anak-anak sebagai subjek yang direkam,” jelas Anggraeni Widhiasih seusai pemutaran di Pusat Kebudayaan Jerman, GoetheHaus, Senin (13/8). Bersama rekannya Dhula Ramadhani, keduanya adalah kurator untuk Program “Candrawala” dalam helatan ARKIPEL Homoludens - 6th Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival 2018.

Selain “Rimba Kini”, program Candrawala juga menyajikan lima film pendek lainnya. Mereka adalah: “Kakak Mau Beli Tisu” (Batara A. Pekerti, 2017), “Ojek Lusi” (Winner Wijaya, 2017), “Lahir di Darat, Besar di Laut” (Steven Vicky Sumbodo, 2017), “Kasihan” (Muhammad Reza, 2017), serta “What’s Wrong with My Film” (Roberto Rosendy, 2018).

“Tema-tema yang diangkat sebagian besar merupakan isu sosial,” sebut Anggareni lagi. Lima dari enam film yang terpilih merupakan hasil karya para mahasiswa sekolah film. “Kami mencoba untuk melihat energi dari pembuat film yang masih mudah ini,” tambahnya.

Pemilihan ini diapresiasi tinggi oleh Bapak Sinema Eksperimental Filipina, Kidlat Tahimik. “Selalu hal yang baik saat kita diingatkan dengan film pertama kita. Ada energi khusus di film pertama itu. Kita bisa belajar banyak,” pungkasnya.


Editor : Flora L.Y. Barus

Flora Librayanti BR K
14-08-2018 21:45