Main Menu

Sisi Lain Sejarah Film di Indonesia yang Tak Pernah Terungkap Sebelumnya

Flora Librayanti BR K
15-08-2018 21:45

Forum Lenteng (forumlenteng.org/yus4)

Jakarta, Gatra.com – Bicara soal sejarah sinema di Tanah Air, nama yang biasanya disebut adalah G. Kruger dan L. Heuveldorp dengan “Loetoeng Kasaroeng” (1926). Atau yang tak kalah populer yaitu Wong Bersaudara juga nama macam The Teng Chun dengan film bicara pertama di Hindia Belanda, “Boenga Roos dari Tjikembang” (1931).

Pada 2016 lalu, Forum Lenteng menggagas proyek “Sejarah Sinema Kecil”. Riset ini berusaha mengungkap praktik pembuatan film yang berada di luar industri dan sudah tercatat dalam sejarah film Indonesia. Hasil penelusuran mereka menemukan dua nama: Kwee Zwan Liang dan Rusdy Attamimi. Keduanya adalah pembuat film ‘amatir’ yang membuat film untuk ranah privat atau boleh kita sebut film rumah. Mereka merekam kisah keluarga yang personal. Keduanya mewakili cerita dari era sebelum dan sesudah kemerdekaan.

“Ini tentang sejarah sinema Indonesia. Sejarah yang jarang diketahui. Sejarah yang berakar di film keluarga dan tidak di industri,” sebut Afrian Purnama disela-sela helatan ARKIPEL Homoludens - 6th Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival 2018 di Pusat Kebudayaan Jerman, GoetheHaus, Jakarta Pusat, Selasa (14/8) malam. Bersama dengan dua rekannya, Syaiful Anwar dan Mahardika Yudha, lahirlah dokumenter tentang dua nama tadi yang diberi judul “Golden Memories”.

Kwee Zwan Liang adalah pemilik pabrik gula di Jatipiring, Cirebon. Film-film yang ia buat direkam dalam rentang waktu 1927-1940. Cerita yang ia sajikan tak sekedar tentang kegiatan putra-putrinya yang masih cilik saat itu tapi juga mendokumentasikan kunjungan Raja Siam ke pabriknya. Afrian dan kawan-kawan sampai pula ke Belanda untuk mewawancarai Kwee bersaudara yang telah sepuh serta tak lupa menonton rekaman-rekaman 8 mm milik sang juragan gula.

“Koleksi Kwee penting karena biasanya cerita tentang kehidupan di Hindia Belanda dibuat orang Belanda. Tapi ini yang membuat adalah orang lokal sendiri,” kata salah satu nara sumber yang diwawancarai dalam “Golden Memories”.

Di sisi lain, Rusdy Atamimi merekam cerita pasca Hindia Belanda. Ia adalah mantan pilot dan mulai membuat film pada 1963.

“Kisah-kisah ini memiliki pengalamannya masing-masing,” pungkas Afrian.


Editor : Flora L.Y. Barus

 

Flora Librayanti BR K
15-08-2018 21:45