Main Menu

Mengglobal Bersama Sineas Filipina dalam Arkipel 2018

Flora Librayanti BR K
15-08-2018 23:13

Kidlat Tahimik. (GATRA/Flora Barus/FT02)

Jakarta, Gatra.com – Kidlat Tahimik. Nama ini kemungkinan besar tak familiar di kalangan sebagian besar pembuat film Indonesia. Tapi sesungguhnya ia adalah tokoh utama dalam sinema eksperimentasi Asia Tenggara. Pria kelahiran 3 Oktober 1942 itu sudah membuat film sejak 1970-an. Ia sering pula disebut sebagai Bapak Sinema Independen Filipina.

 

“Namanya diakui dalam skala global. Kita ini festival yang paling beragam. Menghadirkan Kidlat adalah pernyataan bahwa mengglobal tak harus jauh, tapi ada di sini (Asia Tenggara),” sebut Direktur Festival ARKIPEL Homoludens - 6th Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival 2018, Hafiz Rancajale.

“Budaya kita mirip. Kita datang dari budaya kepulauan. Filipina dan Indonesia sama-sama pula merupakan negara bekas jajahan,” kata Kidlat seusai pemutaran di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Selasa (14/8) malam.

Capaian dari film-film yang ia produksi membuat Kidlat dianggap sebagai salah satu tokoh sinema terbaik Asia Tenggara yang mampu membahasakan dualitas kelokalan dan globalisasi ke dalam bahasa sinema. Kenaifan di film-filmnya bekerja sebagai upaya untuk menempatkan jarak antara hal-hal yang jauh dan terasing disandingkan dengan yang lokal dan sehari-hari.

Program “Focus on Kidlat Tahimik” menyajikan tiga film panjang buatan dia. Film pertama yang diputar adalah karya perdana Kidlat yang sangat berbeda dengan sinema lain pada masanya,” The Perfumed Nightmare” (Mababangong bangungot). Dua film lainnya yakni “Who invented the Yo-yo? Who invented the Moon Buggy?” serta “Balikbayan #1 Memories of Overdevelopment Redux VI”. Program ini dikurasi dan disajikan oleh seniman asal Filipina, Merv Espina.


Editor : Flora L.Y. Barus

 

Flora Librayanti BR K
15-08-2018 23:13