Main Menu

Wiro Si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 yang Kurang Sableng

Fitri Kumalasari
31-08-2018 00:15

Cuplikan adegan di film Wiro Sableng 212 (Dok. Lifelike via Youtube/FT02)

Jakarta, Gatra.com - “Wiro, Wiro Sableng! Sinto, Sinto Gendeng!” Penggalan lirik lagu ini membawa kembali memori tentang Wiro Sableng si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Alunan musik yang menghentak, membuat siapa saja yang mendengar ingin segera masuk bioskop dan menyaksikan aksi pendekar kreasi Bastian Tito sejak 1967 tersebut.

 

Film dibuka dengan serbuan kelompok yang dipimpin Mahesa Birawa (Yayan Ruhian) ke Desa Jatiwalu. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Wira Saksana yang masih belia menyaksikan kematian kedua orangtuanya di tangan Mahesa Birawa. Nasibnya diselamatkan oleh perempuan tua, Sinto Gendeng (Ruth Marini), yang kemudian menjadi guru Wiro.

Alur kemudian mengalir bagaimana Wiro (Vino G. Bastian) diajari ilmu-ilmu silat oleh sang guru yang belakangan mewariskan Kapak Maut Naga Geni 212. Ia pun peroleh julukan sebagai Wiro Sableng. Sinto Gendeng juga menugaskan si murid mencari Mahesa Birawa yang ternyata sebelumnya adalah murid durhaka Sinto karena memilih kegelapan dan kejahatan alih-alih cahaya terang dan berbuat baik.

Turun gunung, Wiro bertemu Anggini (Sherina Munaf) dan Bujang Gila Tapak Suci (Fariz Alfarizi) yang menemani petualangan Wiro selanjutnya hingga bertarung dengan Mahesa Birawa dan ikut menyelamatkan kerajaan yang dipimpin Raja Kamandaka (Dwi Sasono).

Nuansa film yang dibangun sutradara Angga Dwimas Sasongko kolosal dengan efek sana-sini jauh lebih canggih dan baik. Bagaimana tidak, hasil kerja sama rumah produksi Lifelike Pictures milik produser Sheila Timothy, yang juga kakak kandung Marsha Timothy (Bidadari Angin Timur) ini menggandeng Fox International Productions (FIP), perpanjangan tangan dari 20th Century Fox. Tak tanggung-tanggung, produksi film ini menelan budget lebih dari Rp26 miliar.

Film ini melibatkan 997 kru dengan waktu pengerjaan film sekitar 1,5 tahun. Aksi silat yang dilakukan para pemeran dalam film ini pun apik, meski jatuhnya lebih dominan kesan koreografis ketimbang aksi silat sungguhan.

Akting semua pemeran yang melibatkan nama-nama besar lain diantaranya Happy Salma dan Lukman Sardi juga terbilang baik. Tak ada keraguan mengenai akting mereka semua. Namun, entah bagaimana, meski nama-nama besar sudah terlibat di dalam film ini, terasa ada yang kurang dalam cerita tentang pendekar Sableng ini.

Bahkan, karakter sableng si Wiro masih jauh panggang dari api. Dialog-dialog yang dimaksudkan mengocok perut penonton terasa “nanggung”. Sejumlah penonton yang menyaksikan memang berhasil dibuat tergelak oleh beberapa adegan Wiro dengan Bujang Gila Tapak Suci, misalnya. Tapi rasa tawa itu tak lepas.

Karakter yang ada dalam Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 tak melekat dengan sempurna pada para tokoh. Trio penulis skenario Seno Gumira Ajidarma, Tumpal Tampubolon, dan Sheila Timothy tak menghasilkan pengarakteran yang kuat. Wiro kurang Sableng dan Sinto kurang Gendeng.

Sejumlah aksi laga pun serba tanggung. Awalnya kita dibuat terpana dengan sosok antagonis Kala Hijau yang memultiplikasi diri dan bagaimana para pendekar protagonis kelabakan menghadapi perempuan lihai itu. Belakangan, ketika Anggini berhadapan dengan Pendekar Pemetik Bunga, pertarungan keduanya tak sesengit yang diharapkan. Padahal, aslinya, karakter pendekar berambut gondrong yang juga gerombolan Mahesa Birawa tersebut mampu merobohkan lawannya tanpa bergeser satu langkah pun.

Bisa jadi, yang tak bisa tertawa saat menyaksikan film ini memang tak #siapsableng seperti tagar mereka. Film ini indah di mata tapi tak indah di kepala. Penonton dibuai dengan visual epik tapi sajian cerita sedikit membosankan.

Bagaimanapun, film ini layak ditonton. Banyak kebaruan dari segi tema, aksi, visual, dan lainnya yang bisa disaksikan sebagai hiburan sekaligus bahan pembelajaran bagi penonton. Upaya mengangkat pendekar asli Indonesia ke layar lebar adalah hal baik yang semoga saja bisa diikuti oleh para sineas Tanah Air kedepannya. Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 sudah tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai 30 Agustus 2018.



Reporter: Fitri Kumalasari
Editor : Flora L.Y. Barus

 

Fitri Kumalasari
31-08-2018 00:15