Main Menu

Hati-hati Perempuan Berjerawat, Bisa Sulit Hamil

Fitri Kumalasari
01-09-2016 18:07

Dr. dr. Budi Wiweko SpOG (K), Jakarta, Rabu (31/8). (GATRA/Fitri Kumalasari)

Jakarta, GATRAnews - Kebanyakan perempuan selalu berang jika kedapatan mukanya berjerawat. Ada banyak faktor yang menyebabkan jerawat. Namun, apapun penyebabnya, jika masalah jerawat anda sudah di tingkat keparahan tinggi sebaiknya lekas konsultasi kepada dokter. Karena bisa jadi penyebab jerawat juga berimbas pada bagian tubuh lain.

 

Penyebab jerawat yang utama karena kelebihan hormon androgen atau hiperandrogen. Hormon androgen atau jamak dikenal dengan hormon testosteron tak hanya dihasilkan oleh pria, tapi juga perempuan.

 

Hormon androgen pada perempuan dihasilkan dari indung telur dan kelenjar andrenal yang ada di hati. Fungsinya pada perempuan untuk pertumbuhan sel telur dan pertumbuhan rambut kemaluan.

 

"Perempuan nggak boleh banyak jumlah androgennya," kata ahli obgin dari RSCM, Dr. dr. Budi Wiweko SpOG(K) saat ditemui dalam acara diskusi media "Your Body, Your Lfe, Your Choice", Kenali Jerawat Hiperandrogen dan Dampaknya bagi Perempuan oleh Bayer Indonesia di Hermitage Hotel, Rabu (31/8). 

 

Hanya 1 persen saja hormon andrgen bebas yang boleh ada dalam tubuh perempuan. Sisanya, sekitar 99 persen, diikat oleh protein sehingga tak aktif. Jika hormon androgen bebas pada tubuh perempuan lebih dari 1 persen maka akan timbul beberapa masalah. Diantaranya merangsang pertumbuhan jerawat dan rambut berlebih, menstruasi tak teratur akibat sel telur tidak berkembang, dan rambut rontok.

 

Hal lain yang juga tak kalah penting yakni perempuan dengan hiperandrogen beresiko sulit hamil. Di Indonesia sekitar 30-40 persen perempuan dengan hiperandrogen memiliki masalah infertilitas (sulit hamil). 

 

Sementara itu perempuan rentang usia 15-35 tahun sebanyak 10 persennya mengalami hiperandrogen dengan gangguan haid tak teratur. "Itu dikenal dengan Sindrom Ovarium Polikistik atau SOPK," ujar Iko - panggilan akrab Dr. dr. Budi Wiweko SpOG(K).

 

Meningkatnya hormon androgen pada perempuan terjadi pada saat terjadi kegemukan. Sebab meningkatnya berat badan menggangu kinerja insulin di hati yang juga merupakan tempat dimana hormon androgen bekerja. Salah satu indikasi perempuan dengan hiperandrogen bila lingkar perut lebih dari 88 cm.

 

Hiperandrogen sendiri bisa diatasi dengan meminum pil kontrasepsi yang mengandung antiandrogen. Pil konstrasepsi bisa meningkatkan produksi protein pengikat hormon androgen, menghambat pembentukan hormon androgen aktif, menekan pertumbuhan dinding rahim, dan mengatur siklus haid. 

 

Meski demikian, penggunaan pil kontrasepsi, lanjut Iko, perlu dikonsultasikan lebih dahulu kepada dokter. "Obat ini sendiri sudah menjadi stylish medicine," imbuhnya.


Reporter: Fitri Kumalasari

Editor: Dani Hamdani 

Fitri Kumalasari
01-09-2016 18:07