Main Menu

Tindik Puting Bisa Memicu Keracunan Darah yang Mematikan

Rohmat Haryadi
16-10-2016 05:26

Tindik Puting Suku Karankawa (Dok. GATRA)

Jakarta, GATRANews - Tindik atau bahasa kerennya piercing menjadi trend seiring perkembangan zaman. Saking modernnya tindik tidak hanya di telinga, tetapi merambah organ-organ lainnnya, semisal hidung, bibir, pipi, pusar, lidah, alis, alat kelamin, bahkan puting. Tradisi menindik puting laki-laki dilakukan suku Karankawa penduduk asli Amerika. Sedangkan pada perempuan dipraktekkan suku Kabyle di Aljazair. Namun, tahukah anda jika piercing puting itu berbahaya?



Nikki Belza, 33 tahun, harus merelakan satu payudaranya diangkat  setelah tindik puting memicu infeksi darah yang mematikan. Belza menghabiskan lebih dari $ 22.000 atau Rp 286 juta untuk mengangkat payudaranya yang “membusuk”. Kejadian itu tidak lama setelah dia memutuskan untuk menindik putingnya. Dia terbangun kesakitan dan ambruk di tempat kerjanya. Rupanya tindik yang menusuk putingnya menyebabkan infeksi yang mematikan. Demikian Dailymail memberitakan 14 Oktober lalu.

Dia dilarikan ke rumah sakit di mana dokter mengatakan bahwa dia telah terinfeksi bakteri streptokokus A dari suaminya yang sakit tenggorokan. Bakteri tersebut memang bisa menimbulkan infeksi radang tenggorakan hingga seluruh tubuh. Infeksi bakteri memicu peradangan (sepsis) yang melanda jaringan payudara menyebabkan ahli bedah memutuskan mengangkat payudara kiri Belza. Tindakan itu untuk menyelamatkan hidupnya.

Belza, yang sehari-hari seorang pelayan koktail, dari Las Vegas, Amerika itu mengatakan: "Saya benar-benar hancur dengan hanya satu payudara. Dada saya sekarang benar-benar datar dada di satu sisi, tapi aku tahu betapa beruntungnya saya masih hidup. Aku tidak percaya prosedur sederhana seperti piercing dapat menyebabkan infeksi yang mematikan seperti sepsis.”


"Saya benar-benar berpikir aku akan mati, dan aku tahu mengangkat payudara adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan hidupku. Tetapi ketika aku terbangun setelah operasi, aku tidak bisa melihat ke bawah di dada saya,” katanya.

Belza melakukan pembesaran payudara pertamanya pada usia 21, setelah ia tidak puas dengan ukuran 32A-nya. Sejak punya itu dia melakukan dua operasi lagi untuk membuat buah dadanya lebih super dengan ukuran 32DDD. Operasi terbaru pada April tahun ini. Tidak lama setelah pemulihan dirinya dari operasi terbarunya, putingnya ditindik.

Namun, tindik itu menyangkut di seragam kerjanya, sehingga ketika menyebabkan luka robek mendatar pada putingnya. Cedera dibersihkan dan lukanya sembuh hanya dalam beberapa hari. Tetapi beberapa bulan kemudian dia terbangun di tengah malam dengan rasa sakit di bawah lengan kirinya. Dia mengira karena kecapekan kerja. Hingga akhirnya dia roboh di tempat kerjanya.

“Pada titik ini saya merasa gemetaran tidak terkontrol dan saya kedinginan. Detak jantung saya 135 denyutan per menit, tetapi setelah beberapa jam obat nyeri menendang, dan saya tidak lagi dianggap darurat,” katanya.  Dokter percaya itu adalah komplikasi dari operasi pembesara payudara terbarunya, dan menyuruhnya pulang. Keesokan harinya, ia mulai merasa lebih buruk dan suhu tubuhnya naik sampai 40 °C.

Dia dilarikan ke rumah sakit sekali lagi di mana dia ditangani spesialis penyakit menular dan didiagnosis mengalami sepsis. Dia telah tertular infeksi streptokokus yang disebabkan oleh suaminya, CJ, 45 tahun, memiliki sakit tenggorokan - yang memicu peradangannya.  Dokter tidak menawarkan pilihan kecuali mengangkat payudara yang sudah parah itu. Jika tidak, dia mungkin akan koma dan kemungkinan akan tewas.

Tidak lama setelah operasi, rekan kerja membuatnya kue perpisahan payudara. "Meskipun saya benar-benar marah, saya bisa melihat sisi lucunya,” katanya.
“Rasa sakit yang melumpuhkan akhirnya pergi, tapi aku ditinggalkan dengan hanya satu payudara, mereka berhasil menyelamatkan, tetapi payudara kiri saya sekarang benar-benar datar,” katanya. Setelah lima hari di rumah sakit dia dikirim ke rumah.

Apa yang dialami Belza itu dikenal sebagai infeksi invasif. Dimana bakteri telah menembus jaringan payudara kirinya sehingga menimbulkan peradangan. Sepsis merupakan respon beracun untuk infeksi yang dapat menyebabkan kegagalan multi organ dengan cepat. Setiap jenis infeksi dapat menyebabkan sepsis, tetapi paling sering disebabkan pneumonia atau infeksi pada ginjal, aliran darah atau daerah perut. Gejala awal mungkin termasuk denyut jantung yang cepat, demam, tekanan darah rendah dan bernapas terlalu cepat.

Jika terdeteksi dari awal, sepsis dapat diobati dengan antibiotik. Tapi jika tidak, infeksi dapat berkembang menjadi sepsis berat atau syok septik dan berubah fatal. Lebih dari satu juta orang Amerika yang didiagnosis dengan sepsis setiap tahun, dan 258.000 meninggal karena itu. Kematian itu karena tubuhnya yang mencoba melawan infeksi menyebabkan keracunan darah.

Dr Ron Daniels, kepala eksekutif dari UK Sepsis Trust, mengatakan: “Sepsis atau keracunan darah, adalah reaksi terhadap infeksi di mana tubuh menyerang organ sendiri dan jaringan. Jika tidak terdeteksi dan ditangani dengan cepat, dengan cepat dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian.”

“Pada tahap awal, sepsis dapat terlihat seperti kasus flu berat. Gejala awalnya mungkin termasuk tenggorokan sangat sakit, otot pegal dan kelelahan. Siapapun dengan gejala seperti flu dan satu atau lebih dari tanda-tanda utama dari sepsis harus segera ke dokter, baik dengan menghubungi ambulans atau pergi ke unit gawat darurat. Karena setiap jam yang berlalu sebelum antibiotik yang tepat diberikan, risiko kematian meningkat,” Daniels mengingatkan.


Editor: Rohmat Haryadi

Rohmat Haryadi
16-10-2016 05:26