Main Menu

Oxfam Sasar Jawa dan Sulawesi untuk Program Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

Fahrio Rizaldi A.
28-11-2016 22:10

Jakarta, GATRAnews - Untuk menekan angka praktek perkawinan anak di Indonesia, lembaga sosial internasioal, Oxfam di Indonesia, akan melanjutkan program penghapusan kekerasan terhadap perempuan di sejumlah daerah. Sebelumnya, Oxfam telah menggelar program ini di kawasan Indonesia Timur, seperti Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sulawesi.

Direktur Keadilan Gender Oxfam di Indonesia, Antarini Arna menyebutkan tanpa disadari, kawasan maju seperti Jawa Timur, Jawa Barat, dan sebagian daerah di Sulawesi, masih rentan terhadap praktek perkawinan anak.

"Kami akan meluaskan area kerja di tempat yang angka pernikahan anaknya tinggi. Tahun 2017 nanti, kami akan menyasar wilayah Jawa Timur, Jawa Barat, Madura, dan Makasar. Dari riset yang dilakukan, terdapat kenyataan yang mengejutkan, ada daerah yang membolehkan anak usia delapan tahun dinikahkan," ujar Antarini, Senin (28/11) kepada GATRAnews, di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat.

Sebelumnya, Oxfam telah berhasil mengajak masyarakat di NTT dan NTB untuk mengubah pola pikir mereka tentang rentannya perkawinan anak usia dini. Komunitas seperti Laki Laki Baru dan komunitas adat yang melindungi perempuan adalah bentuk dari kepedulian masyarakat NTT dan NTB dalam menghapuskan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

"Kami masih akan mendukung organisasi perempuan yang bergerak di lapangan, bersama tokoh agama, lembaga sosial, dan anak muda. Cara yang paling efektif adalah mengamandemen UU tentang pernikahan dari usia 16 tahun menjadi 18 tahun paling muda (untuk menikah)," urainya.

Perkawinan anak bukan lagi menjadi masalah ekonomi, lanjut Antarini, masalah ini sudah menjurus kepada keadilan gender. Sebab, sebagian besar korbannya adalah perempuan. "Cara pandang keluarga ini perlu dirubah. Kenapa hanya anak perempuan yang dijadikan beban sehingga harus dinikahkan. Anak dianggap sebagai aset yang memberikan keuntungan jika dinikahkan," jelasnya.



Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Edward Luhukay

Fahrio Rizaldi A.
28-11-2016 22:10