Main Menu

Amanda Julia Isa: Aksi Kemanusiaan Berbuah Prestasi

Aries Kelana
02-12-2016 21:08

Jakarta, GATRANews -- Perhatian Amand Julia Isa pada aspek kemanusiaan boleh dibilang luar biasa. Di usia 23 tahun, ia bersama 4 rekannya memperhatikan daerah terpencil yang tidak tersentuh oleh listrik dan sarana komunikasi. Ia membangun listrik tenaga surya dan membangun peralatan komunikasi.


Hasil jerih payahnya membuahkan hasil. Anak pertama dari 4 bersaudara ini meraih gelar juara pertama IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) 2016 yang berlangsung di Portland, Oregon, Amerika Serikat.

Dalam final yang berlangsung di negeri Paman Sam, Oktober silam, timnya yang mewakili Indonesia, sukses menyingkirkan tim dari Peru dan Pakistan untuk kategori Humanitarian Project. Di acara tersebut, Amanda juga dianugerahkan pemenang Best Dress Award, sebagai pebusana terbaik di mata para peserta.

IEEE adalah lembaga kumpulan para insinyur terkenal di dunia. Lebih dari 400.000 insinyur yang tersebar di 150 negara masuk dalam organisasi itu. IEEE digagas pada tahun 1884, di antaranya oleh Thomas A. edison, penemu mesin uap dan Graham Bell, penemu telepon.

“Sangat menggembirakan, karena ini kedua kalinya saya mendapat penghargaan serupa,” ujar warga Pondok Kelapa, Jakarta Timur ini kepada Gatra.com (30/11/16). Tahun lalu ia meraih juara 2 yang diterimanya di Peru dalam lomba serupa.

Upaya yang mengantarkan karyawan internship Telkom mengukir prestasi dimulai ketika ia ingin melihat daerah-daerah terpencil guna dijadikan proyek kemanusiaan. Waktu itu muncul gagasan dari salah satu advisornya, Iskandar dari Telkom, untuk membantu daerah-daerah teroencil yang minim infrastruktur listrik dan telekomunikasi. Iskandar mengatakan bahwa masih banyak desa yang tidak memiliki dua sarana itu.

Lalu dicarilah desa yang dimaksud. Lewat bantuan seorang teman, ia mendapatkan informasi Pulau Mapur di Kepulauan Riau. “Teman saya cerita kalau di desanya tidak ada listrik,” kata Amanda yang menjadi inisiator proyek. Informasi tersebut ditindaklanjuti dengan survei ke sana.

Hasil surveinya benar. Ada 2 kampung di Mapur. Mereka mempunyai pekerjaan sebagai nelayan. Untuk menangkap ikan, ia mengandalkan cuaca pada saat itu. Untuk penerangan, mereka hanya mengandalkan lampu dari minyak tanah.

Maka mereka berangkat. Di bawah pimpinan Amanda mereka membangun panel surya sebesar 200 watt. Lalu membuat instalasi listrik untuk menerangi beberapa rumah. Kemudian juga dipasang parabola. Pekerjaan itu diselesaikan 2 pekan. “Meski masihsedikit kapasitasnyal, tapi bagi kami mereka sudah bisa menggunakan alat komunikasi,” katanya.

Di situ warga bisa mengisi batere jika habis, menonton siaran televisi di salah satu kantor, serta menggunakan internet untuk memantau perkiraan cuaca di sekitarnya dari satelit. Semua aktivitas didokumentasi. Dokumen berupa video diikutsertakan dalam lomba.

Setelah mendapat sarana tersebut, warga setempat menyambut gembira. Mereka tidak perlu mengisi batere dari kapal lagi. Mereka bisa mendapatkan informasi dari luar lebih banyak. “Sambutan mereka positif dan berjanji merawat peralatan tersebut,” ujarnya.



Penulis: Aries Kelana

 

 

 

 

Aries Kelana
02-12-2016 21:08