Main Menu

Para Ilmuan Perempuan LIPI Berbagi Kisah di Hari Perempuan Internasional

Fahrio Rizaldi A.
08-03-2017 23:39

Jakarta, GATRAnews - Peran perempuan dalam membangun negara semakin diakui. Kesetaraan gender yang kerap diperjuangkan membuat perempuan berani membuktikan potensi yang dimilikinya.

 

Dalam bidang keilmuan, perempuan juga menempati posisi penting sebagai peneliti. Hal ini terlihat dari banyaknya perempuan yang menjadi peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

 

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Sedunia, yang jatuh pada Rabu (8/3) sejumlah perempuan peneliti dari LIPI berbagi kisah inspiratis mereka kepada para perempuan, dan akademisi.

 

Para peneliti itu antara lain, Evy Ayu Arida (peneliti bidang zoologi), Ratih Asmara Ningrum (peneliti bidang bioteknologi), Neni Sintawardani (peneliti bidang lingkungan), dan Yenny Meliana (peneliti bidang kimia).

 

Evy Ayu Arida, peneliti bidang zoologi ini fokus pada proyek penelitian tentang hewan melata atau reptil. Baginya, pekerjaan yang identik dengan laki-laki itu sangat menyenangkan.

 

"Saya berhadapan dengan hewan melata. Hal yang menjijikkan bagi perempuan, tapi saya menikmati itu. Dan saat saya melakukan pekerjaan ini, tidak ada perlakuan yang berbeda kepada saya," ujar Evy, Rabu (8/3) di Gedung LIPI, Semanggi, Jakarta Selatan.

 

Hal serupa juga dialami tiga peneliti lainnya. Mereka menganggap menjadi peneliti di Indonesia adalah tugas yang mulia. "Saya bukan berasal dari universitas ternama, tidak seperti teman-teman peneliti yang lain. Tapi saya mampu menjadi peneliti LIPI," ucap Ratih Asmara Ningrum.

 

Peneliti senior di bidang lingkungan, Neni Sintawardani menilai menjadi seorang peneliti di Indonesia memiliki tantangan tersendiri.

 

"Kalau di daerah maju, semuanya serba mudah, perlengkapan penelitian tersedia. Tapi di mana tantangannya, justru peneliti itu harus kreatif di tengah keterbatasan," ungkapnya.

 

Sementara peneliti bidang kimia, Yenny Meliana mengaku sempat menghadapi bermacam kendala saat menyelesaikan program doktornya.

 

"Saya bukan dari kalangan orang yang mampu melanjutkan kuliah sendiri. Saya mendapatkan beasiswa. Beasiswa itu sifatnya terbatas, nggak bisa santai-santai. Saya harus menghabiskan waktu lima setengah tahun untuk menyelesaikan S3, beasiswa cuma tiga tahun, untuk menyelesaikan sisanya saya harus bekerja agar bertahan hidup," tukas Yenny.


Reporter: Rizaldi Abror

editor: Dani Hamdani 

 

Fahrio Rizaldi A.
08-03-2017 23:39