Main Menu

Pernikahan di Bawah Usia Terjadi Juga di Perkotaan

Aries Kelana
30-09-2017 08:00

Diskusi tentang pernikahan usia muda (dok.Gatra/yus4)

Jakarta, GATRANews -- Saat ini fenomena perkawinan usia anak (di bawah 18 tahun) tidak hanya terjadi di pedesaan, namun juga terjadi perkotaan. Laporan dari UNICEF dan Badan Pusat Statistik tahun tahun lalu mengungkapkan bahwa satu dari tujuh anak perempuan yang hidup di daerah perkotaan menikah sebelum usia 18 tahun.

 

Perkawinan anak menyebabkan terputusnya fase masa remaja. Seharusnya pada fase itu merupakan fase bagi perkembangan fisik, emosional, kognitif dan sosial mereka. Namun mereka sudah dihadapkan pada beban tanggung jawab rumah tangga, baik sebagai istri maupun seorang ibu.

Dalam jumpa pers yang digelar di Ruang Bersama, Jl Cikini Raya, Menteng, Jakarta Pusat, Psikolog Ajeng Raviando mengatakan bahwa memasuki kehidupan rumah tangga di usia remaja bukanlah hal yang mudah. Anak yang menikah sebelum 18 tahun seringkali dianggap sebagai orang dewasa dan harus memikul tanggung jawab yang sangat besar.

Perkawinan usia anak juga sering membuat anak perempuan berhadapan pada berbagai persoalan rumah tangga yang berujung pada perceraian. “Hal ini dapat mengakibatkan kecemasan, depresi, atau mendorong mereka untuk memiliki pikiran untuk bunuh diri,” ujar Ajeng dalam rilisnya kepada GATRANews (29/9/2017).

Seorang anak seharusnya mendapatkan pendidikan, kesehatan, dan kehidupan yang layak dimana ia terlindung dari berbagai macam bentuk kekerasan. Berdasarkan laporan UNICEF, anak perempuan yang menikah sebelum berumur 18 tahun enam kali lebih sedikit kemungkinannya untuk menyelesaikan sekolah menengah dibandingkan perempuan yang menikah setelah berumur 18 tahun.

Acara ini diselenggarakan oleh Plan International Indonesia, organisasi nonprofit yang bergerak di bidang pemenuhan hak-hak anak dan kesetaraan anak perempuan memiliki proyek pencegahan perkawinan anak bernama Yes I Do” selama 5 tahun bersama Rutgers WPF Indonesia dan Aliansi Remaja Independen.

Proyek ini diharapkan dapat mencegah perkawinan usia anak dengan mengkapasitasi anak dengan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, pemberdayaan ekonomi dan partisipasi anak muda yang bermakna.



Editor: Aries Kelana

 

 

 

 

 

 

 

 

Aries Kelana
30-09-2017 08:00