Main Menu

Ingin Jadi Buruh Migran Paling Aman Lewat BP3TKI

Annisa Setya Hutami
23-12-2017 13:07

Women Workers Festival. (GATRA/ASH/AK9)

Jakarta, Gatra.com - Pekerja informal seperti buruh migran rentan terhadap perlakuan pelecehan seksual dan kekerasan. Padahal pekerjaan itu lebih banyak penyerapan dibandingkan sektor pekerjaan formal.


Mengenai masalah itu, Trade Union Rights Centre (TURC), lembaga swadaya masyarakat yang peduli terhadap buruh migran mengadakan “Women Workers Festival” pada Jumat (22/12)- Sabtu (23/12). Salah satunya mengadakan diskusi dengan mengangkat tema persoalan TKW di Timur Tengah dalam sesi "Berbagi Cerita: Lika-Liku Perempuan Pekerja Informal".

Permasalahan TKW di Timur Tengah sudah lama terjadi. Kasus penyekapan TKI pada April 2017 lalu di Arab Saudi menjadikan pemerintah Indonesia meninjau ulang pengiriman TKW. Penyekapan sebanyak 300 TKI ini membuktikan pengiriman tenaga kerja sektor informal secara ilegal tetap terjadi meski pemerintah Indonesia melakukan moratorium.

"Kerja di Timur Tengah tidak ada hari libur. Setiap hari full time kerja. Terkadang muncul ketakutan akan pelecehan. Sumber daya manusia yang rendah dan sulit berkomunikasi dengan konsulat," ucap Ani (bukan nama sebenarnya) salah satu mantan buruh migran, di Jakarta, Jumat (22/12).

Melihat tekanan pada buruh migran, mereka kerap mengalami kesulitan karena tidak adanya pendampingan yang melakukan advokasi jika terjadi permasalahan. Ditambah lagi kondisinya tempat bekerja tidak mendapatkan akses untuk komunikasi.


“Mengalami kesulitan bertemu dengan orang lain dan tidak mendapatkan perlindungan. Dari kejadian itu, dapat bermula karena salah melakukan pilihan terhadap PJTKI.”

"Ada pembekalan sebelum berangkat bekerja ke luar negeri. Namun, ketika surat izin dicabut, proses tetap berjalan. Seharusnya tidak seperti itu. Paling aman melalui BP3TKI. Soalnya PJTKI terkadang tidak memenuhi prosedur," kata Ani.


Reporter: ASH
Editor: Arief Prasetyo

Annisa Setya Hutami
23-12-2017 13:07