Main Menu

Menggali Personal Story Dalam Fotografi

Bernadetta Febriana
11-03-2018 07:32

Diskusi Buku Foto bertajuk Menggali Ide dan Gagasan Dengan Pendekatan Personal Story. (Dok Bentara Budaya Jakarta/re1)

Jakarta, Gatra.com - " Siapa yang setiap harinya memeluk ibu di rumah dan berapa kali kalian mencium tangan ibu?" tanya Ridzki Noviansyah kepada audiens. Pria yang menjabat sebagai Co Founder The Photobook Club Jakarta ini membagi tips dan trik menggali rasa dalam fotografi. Pada diskusi Buku Foto bertajuk Menggali Ide dan Gagasan Dengan Pendekatan Personal Story di Bentara Budaya, Jakarta Barat (10/03), Ridzki mengungkapkan memotret harus menggunakan rasa agar gambar yang tercipta memiliki makna.

 

Di depan audiens yang hadir Ridzki mengulas proses penentuan tema. Ia mengatakan pengambilan tema dapat dimulai dari hal-hal kecil yang menjadi rutinitas sehari-hari. Hal itu dilakukan dapat merangsang dan mengeksplore perasaan. "Perlu peka dan jeli dalam kehidupan sehari hari. Itu modalnya. Setelah itu kalian memotretnya. Nanti akan muncul rasa itu dan gambar pun akan bercerita," ucap Ridzki.

 

Di Indonesia masih jarang yang membahas tentang fotografi personal story atau perasaan, lanjut Ridzki, padahal cipta, karsa dan karya itu tidak terlepas dari rasa. Ridzki juga mencontohkan rata-rata banyak mahasiswa yang belum mengenal konsep personal story ini. " Mereka (mahasiswa_red) hanya terpaku pada fotografi jurnalistik saja. Sehingga di mind set mereka ya, fotografi hanya digunakan untuk berita," paparnya.

 

Selain Ridzki Noviansyah, hadir pula Ridhwan Siregar yang turut membagikan kisahnya memotret dengan menggunakan personal story. Pada Desember tahun lalu, Ridhwan berhasil membuat buku foto berjudul Mencari Amang. Buku tersebut berisi tentang kebiasaan sehari-hari bersama anak lelakinya di New York, Amerika Serikat. 

 

Kala itu, Ridhwan tidak memiliki pekerjaan tetap. Tiap hari sembari menunggu istrinya pulang kerja, ia menghabiskan waktu bersama buah hatinya. Saat bersama dengan anaknya itulah, Ridhwan kerap mengabadikan moment-moment tersebut. Dimulai dari anaknya yang baru bisa menggigit sebuah apel hingga anaknya bermain dan berlarian di taman. 

 

Ridhwan merasa menghabiskan waktu bersama buah hatinya menjadi penyeimbang hidup bagi keluarganya. " Istri saya bekerja full time sedangkan saya hanya di rumah bersama anak. Saya berpikir ini waktu saya untuk berperan sebagai ibu di siang hari. Maka saya menemukan moment itu dan saya abadikan. Kalau kami berdua bekerja maka hilang sudah moment pertumbuhan anak saya," kata Ridhwan.

 

Setelah sukses mengarang sebuah buku foto, Ridhwan merasakan kabahagiaan yang tak terhingga. Ia yakin perkembangan buku foto dengan metode personal story dapat berkembang dan memiliki nilai estetika yang tinggi. " Yakin banget kedepannya metode ini digandrungi banyak orang. Apalagi tiap orang memiliki moment yang berbeda," ucapnya. 

 

Pria yang menggemari dokumenter ini mengajak audiens untuk mencoba menerapkan metode ini. Dengan metode personal story hasil jepretan tidak hanya sekadar memberikan informasi tetapi dapat menyampaikan perasaan. " Orang yang melihat gambar bakal ngena banget ," katanya.


Reporter : RAS

Editor : Bernadetta Febriana

Bernadetta Febriana
11-03-2018 07:32