Main Menu

Ini Alasan Produsen Harus Mempertimbangkan Pertumbuhan Gen M

Fitri Kumalasari
20-05-2018 11:30

Ilustrasi Aktivitas Geenerasi Muslim. (Shutterstock/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Apa yang menjadi Top of mind saat perempuan Indonesia ditanya kosmetik halal? Ya, jawaban yang muncul pasti Wardah. Atau, jika pertanyaan, busana muslim apa yang lekat dibenak, jawabannya ada Zoya atau Shafira. 

 

Hal itu menurut Managing Partner Inventure Yuswohady, sebagai wujud dari mulai tumbuhnya perilaku pasar yang digerakkan oleh pertumbuhan Generasi M atau revolusi pasar pertama Gen M. Mereka adalah kelompok pasar yang memiliki kesadaran dalam memilih produk yang digunakan berdasarkan pertimbangan kehalalannya atau sesuai syariah agama Islam. Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, apa yang terjadi saat ini, menurut Yuswohady,  barulah pemanasan.

Menurut Yuswohady, pertumbuhan pasar Gen M yang sesungguhnya baru akan terjadi pada tahun-tahun mendatang.  “Revolusi kedua kami ramalkan setelah 2019 saat pasar halal makin terbuka dan implementasi UU Jaminan Produk Halal. Kami sebut ini era panen,” jelasnya.

Dampak terhadap produk-produk yang disukai Gen M ini juga terus tumbuh. Bahkan. Wardah mengalami pertumbuhan bisnis hingga 100%. Ia jadi pemain utama di pasar kosmetik halal Indonesia. Rasa manis yang dicecap Wardah juga dirasakan pemain kosmetik asal negeri Jiran, Safi yang  mulai melebarkan pasar ke Indonesia sejak awal 2018 ini.

Sekarang ini dari seluruh produk yang terdaftar BPOM, hanya 11% saja yang punya sertifikasi halal. Padahal, masyarakat muslim jumlahnya mayoritas di Indonesia. Semakin matangnya kesadaran Gen M akan nilai-nilai Islam menjadi peluang bagi industri meraup pasar baru. Lemari Es sertifikasi halal dari Sharp sudah rilis. Pembalut wanita dengan logo halal MUI dari Softex pun juga ada. 

Yuswohady menyebut ada 2 alasan yang membuat pasar Gen M menarik di era sekarang. Pertama, makin matangnya Gen M yang makin banyak masuk dunia kerja dengan penghasilan tinggi. Pendididkan dan penghasilan tinggi menempatkan Gen M pada kelompok high consumption. “Gaya hidup global dan modern, mereka ini kelompok konsumen konsumtif.” kata Yuswohady.

Kedua, pemberlakuan UU Jaminan Produk Halal bakal ikutan mengedukasi produk halal lebih masif baik di kalangan konsumen maupun  produsen di Indonesia. Pada konsumen, edukasi ini lebih lekat lewat peer to peer (P2P) di media sosial. Cara ini sudah terbukti efektif pada edukasi hijab pada 10 tahun terakhir.

Bagi produsen, ketika kesadaran konsumen makin runcing pada semua yang berkaitan dengan halal, mau tak mau mereka harus ikut beradaptasi berkreasi dan berinovasi mengeluarkan produk halal. “Pada gilirannya produk halal akan menjadi pasar mainstream di Indonesia, persis seperti yang terjadi dengan hijab,” pungkasnya.

 



Reporter: Fitri Kumalasari

Editor: Hendri Firzani

Fitri Kumalasari
20-05-2018 11:30