Main Menu

Narkoba dan Cerita Kelam

Annisa Setya Hutami
26-06-2018 16:18

Peringatan Hari Narkotika Internasional, Selasa (26/6). (GATRA/ASH/FT02)

Jakarta, Gatra.com- Pengedaran narkotika seolah menjadi momok yang sulit terlepas pada beberapa negara. Amerika Serikat saja membutuhkan waktu bertahun-tahun guna mengatasi persoalan tersebut. Bahkan terdapat permasalahan diskriminasi rasial di dalamnya. Analis Kebijakan Narkotika LBH Masyarakat, Yohan Misero mengatakan, kasus peredaran narkotika di Indonesia lebih kepada permasalahan kemiskinan, tidak terdapat persoalan rasial.

“Narkotika erat kaitannya dengan kemiskinan dan diskriminasi rasial. Di Amerika Serikat, muncul persepsi bahwa dengan mengisap ganja maka akan dapat melihat bayangan wanita kulit putih. Berbeda dengan kondisi di Indonesia. Di sini tidak ada pengaruh rasial. Adanya faktor kelompok kaya dan miskin. Pengguna narkoba akan memiliki rasa curiga berlebih. Hal ini berdampak pada perekonomian keluarga,” katanya dalam seminar memperingati Hari Narkotika Internasional pada Selasa (26/6) di Impact Hub.

Karena kemiskinan, menimbulkan seseorang memilih menjadi pengedar narkoba. Sedangkan pengguna narkoba selalu merasa kecanduan dan menghabiskan uangnya untuk membeli barang haram tersebut. Namun apabila sudah berada di jeruji besi, mereka akan mengeluarkan banyak uang dan merasakan penderitaan. Ditambah lagi dengan kehilangan produktifitas untuk bekerja.

Dalam seminar tersebut hadir beberapa mantan pengguna narkotika. Beng-Beng, salah satunya yang kini memilih menjadi seorang seniman. Beberapa tahun lalu pernah merasakan tinggal di penjara Salemba dan Cipinang. Ia menceritakan, saat itu yang ada di pikirannya adalah keluarga dan kematian. Hingga akhirnya mencoba kuat dan bangkit. Bahkan kini aktif menjadi pelukis dan mendirikan sebuah komunitas.

“Pernah menjadi pengguna narkotika menjadi sebuah pengalaman buruk. Apalagi setelah mendengar data korban meninggal sebanyak 475 orang akibat narkotika. Sangat menyakitkan dan penuh hikmah,” ujarnya.

Mantan pengguna narkoba selanjutnya adalah Tejo. Pria berusia sekitar 30 tahunan tersebut pernah tiga kali masuk hotel prodeo. Saat berada di dalam sel, ia melihat sebuah realitas bahwa kebanyakan pengguna yaitu mahasiswa. Hingga memunculkan pertanyaan dan merasa miris melihat anak muda mengorbankan masa depan hanya karena sebuah barang kecil.

“Terakhir masuk pada 2015. Waktu itu menjadi sadar setelah ada seseorang yang mengatakan pada saya kalau masih jadi pengguna tidak akan bisa bantu orang lain,” ucapnya. Nasihat tersebut selalu tergiang di telinga Tejo hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjauhi narkotika.

Dari keseluruhan mantan pengguna, hadir seorang perempuan bernama Rosma. Pada 2005 pernah ditangkap dan divonis 3 tahun penjara. Ia menuturkan, selama berada dalam sel, belum merasa jera. Namun setelah melihat pengorbanan keluarga untuk membebaskannya dari sel, ia kemudian menjadi sadar.

“Sudah berapa banyak jumlah uang yang dikeluarkan oleh keluarga agar saya bisa keluar dari tempat itu. Tadinya ketika ditahan masih bisa pakai dan nggak memikirkan dampaknya. Begitu lihat perjuangan keluarga sampai menghabiskan uang, saya menjadi paham tindakan saya sangat salah,” kata Rosma.

Narkoba tidak hanya membuat pengguna dan pengedarnya menjadi menderita, namun juga menguras uang mereka. Meskipun awalnya mereka memulainya karena masalah perekonomian dan jeratan penderitaan lainnya. Namun, buktinya setelah terlepas dari barang haram tersebut para mantan pengguna narkoba memiliki kehidupan yang lebih indah. Mereka bahkan mampu menjadi sosok motivator agar tidak ada lagi pecandu narkotika.


Reporter: ASH
Editor: Iwan Sutiawan

Annisa Setya Hutami
26-06-2018 16:18