Main Menu

Ini Dia Tipe Gaya Makan Berdasarkan Dekade Usia

Birny Birdieni
08-07-2018 09:39

Ilustrasi. (Dok.Shutterstock/280360667/RT)

Artikel Terkait

Jakarta, Gatra.com- Seperti apa gaya makan anda selama ini? Apakah anda bertipe yang makan untuk hidup atau hidup untuk makan?. Ternyata ada hubungan rumit antara makanan dengan biaya, ketersediaan dan bahkan tekanan teman sebaya.

Namun diantara semua itu, apa yang kita bagikan adalah nafsu makan alias keinginan kita untuk makan. Ketika lapar, tubuh memiliki cara membuat kita menginginkan makanan.

Itu adalah salah satu faktor dari nafsu makan. Akan tetapi, ada hal lain yakni dari perihal lingkungan seperti bau makanan, suara dan bahkan iklan mengenai itu.

Nah selera makan kita itu ternyata tak menetap. Itu mengubah seluruh umur kita di saat menua. Ada tahap dekade dalam usia untuk proses makan kita. Untuk tahu lebih detil, berikut penjelasan dari Ketua Nutrisi dari  The Rowett Institute University of Aberdeen sepertip dari BBC :

1. Dekade Usia 0-10 tahun

Pada masa kanak-kanak, tubuh mengalami pertumbuhan cepat. Perilaku diet yang dibangun di kehidupan awal akan menuntun apakah anak gemuk saat dewasa akan gemuk juga atau tidak.

Kerewelan atau rasa takut akan makan pada anak menjadi konsern kekhawatiran orang tua. Ada strategi untuk anak mencicipi secara berulang dalam lingkungan positif. Ini akan membuat mereka belajar akan makanan tak familiar, seperti sayuran misalnya.

Dalam ukuran porsi, anak juga harus mendapat kontrol untuk tidak dipaksa membersihkan piring. Sebab hal ini akan berdampak pada kemampuan mereka untuk mengikuti selera atau tanda-tanda kelaparan mereka.

Hingga harus melindungi anak dari iklan makanan junk food. Ini berlaku di televisi, aplikasi, hingga media sosial dan blog video. Ini akan berkontribusi meningkatkan konsumsi makanan yang berujung pada kelebihan berat badan.

2. Dekade Usia 10-20 tahun

Saat masa remaja, pertumbuhan nafsu makan dan perawakan didorong oleh hormon sebagai penanda datangnya pubertas. Bagaimana anak mendekati makanan di masa inilah yang akan membentuk pilihan gaya hidup mereka di tahun mendatang.

Hal ini memiliki arti bahwa keputusan diet yang dibuat remaja secara intrinsik berkaitan dengan kesehatan generasi mendatang yang akan menjadi orang tua mereka. Sayangnya, tanpa bimbingan remaja bisa mengadopsi perilaku dan preferensi makanan yang terkait konsekuensi sehat atau tidak.

3. Dekade 20-30 tahun.

Di saat dewasa muda, ketika seseorang masuk perguruan tinggi atau menikah dan menjadi orang tua dapat meningkatkan berat badan. Setelah terakumulasi, lemak tubuh sering sulit hilang.

Kondisi tubuh mengirim sinyal makan kuat ketika kita mengkonsumsi lebih sedikit. Tetapi sinyal untuk mencegah makan berlebih telah melemah. Ada faktor fisiologis dan psikologis dalam mempertahankan pengurangan makanan.

4. Dekade usia 30-40 tahun

Kehidupan kerja dewasa memiliki tantangan lain. Juga efek dari stress juga mendorong perubahan selera dan kebiasaan makan di 80% populasi.

5. Dekade usia 40-50 tahun

Di usia ini orang dewasa harus mengubah perilaku mereka seperti kesehatan mereka yang didikte. Namun gejala sakit sering tak terlihat, sebagai contoh tekanan darah tinggi maupun kolesterol tinggi.

6. Dekade usia 50-60 tahun

Setelah usia 50 tahun kita akan mulai mengalami sarcopeni, yakni dengan kehilangan massa otot secara bertahap antara 0,5-1% per tahun.

Juga harus mengurangi aktivitas fisik, hingga mengonsumsi protein lebih sedikit. Bagi wanita akan mengalami tahap menopause yang juga makin mempercepat penurunan massa otot.

Dengan melakukan diet sehat bervariasi dan melakukan aktivitas fisik juga penting dalam mengurangi efek penuaan.

7. Dekade usia 60-70 tahun

Tantangan utama saat usia ini adalah menghadapi peningkatan harapan hidup dengan menjaga kualitas hidup. Bila tidak akan bisa dihadapkan masalah sebagai orang tua yang lemah dan cacat.

Nutrisi menjadi hal penting karena dengan usia ini nafsu makan biasanya memburuk. Sehingga penurunan badan terjadi meski tidak disengaja. Lalu ada risiko Alzheimer yang bisa mengurangi nafsu makan juga.

Harus diingat bahwa dalam sepanjang hidup makanan itu bukan hanya sekedar bahan bakar. Namun juga pengalaman sosial dan budaya untuk dinikmati. Harus menikmati makanan dengan efek positif pada kesehatan kita.

 


Editor : Birny Birdieni

Birny Birdieni
08-07-2018 09:39