Main Menu

RPPK, Sahabat Anak Jalanan Kota Industri

Putri Kartika Utami
15-08-2018 17:18

Kegiatan kelas terbuka di sekretariat Relawan Peduli Pendidikan Karawang (RPPK).(Dok. RPPK/re1)

Karawang, Gatra.com - Sore itu, Lila membereskan alat-alat ngamennya ke dalam tas. Ia bergegas menuju kawasan pertokoan di pinggiran rel kereta api. Kaki gadis kecil berusia 11 tahun itu berhenti di depan sebuah rumah toko yang menjadi sekretariat Relawan Peduli Pendidikan Karawang (RPPK).

 

Letaknya tidak jauh dari Stasiun Karawang. Di ruangan seluas 6 x 3 meter itulah Lila dan anak jalanan lainnya belajar setiap Sabtu dan Minggu sore. Para relawan mengajari mereka baca tulis dan hitung (calistung).

RPPK berdiri 22 Maret 2014 yang didirikan empat alumni SMP Negeri 2 Karawang. Awalnya, mereka adalah relawan banjir saat bencana tersebut terjadi empat tahun silam.

“Penggagasnya Saya, Danu, Egi, Raden Putri,” tutur Ketua RPPK, Sofyan Andi Nurani.

Ada sekitar 28 anak yang RPPK bina. Tahun lalu ada 45 anak yang bergabung. Jumlah ini tidak menentu karena kondisi sebagian anak hidup berpindah-pindah tempat. Dari 28 anak itu, hanya 30 persen saja yang bersekolah.

Awalnya, para relawan kesulitan mengajak anak-anak itu ikut kelas terbuka. Lalu mereka melakukan pendekatan personal dengan mendatangi orangtua anak-anak tersebut.

“Kita ajak dan jelaskan siapa dan apa yang kami lakukan. Awalnya memang kesusahan tapi kelamaan dengan pendekatan melalui pemberian susu, makanan, alat tulis akhirnya mereka tertarik belajar bersama RPPK,” paparnya.

Kemunculan RPPK bermula dari kegelisahan mereka melihat potret pendidikan anak di Karawang, khususnya anak jalanan. Sebagai kota industri dengan UMK tertinggi level nasional, Karawang menjadi magnet bagi para perantau. Masyarakat luar berbondong-bondong hijrah mengejar kesejahteraan ekonomi yang lebih baik.

Sayang, tidak semua pendatang punya kualifikasi pekerja yang dibutuhkan kota tujuan. Beberapa kaum urban ini bahkan tidak punya keahlian khusus atau latar pendidikan yang cukup untuk bekerja di sektor formal. Akhrinya, mereka jadi gelandangan. Lila contohnya. Dari Semarang, anak yatim ini mengadu nasib bersama ibunya di Karawang.

“Goal kami ingin RPPK bisa membawa anak-anak jalanan minimal bisa membaca, menulis dan berhitung serta memiliki keterampiltan lebih dari calistung,” ujarnya.

Kegiatan RPPK tidak hanya membuka kelas belajar. Ada program One Month One Meal (OMOM) berupa pembagian susu sapi segar dan Bergizi yaitu pemberian makanan sehat kepada anak-anak binaan mereka. Keduanya dilakukan rutin setiap bulan dan dibagikan secara cuma-cuma.

Untuk program tahunan, RPPK pernah membagikan 1000 seragam gratis kepada murid SD di dearah pelosok. “Untuk program ini kita sudah selengarakan 3 kali di SD telujambe, Cilamaya dan sekolah di belakang kawasan industri.”

Dengan banyak gerakan sosial, tentu butuh lebih banyak tangan-tangan relawan yang turun membantu. Ada 10 relawan yang bekerja di kepengurusan.

Sementara relawan tidak tetapnya mencapai 25 orang. Jumlah relawan fluktuatif karena RPPK memang tidak berbasis komunitas dan tidak mengikat. Para penggerak ini berasal dari beragam latar belakang sosial.

“Ada bidan, guru, karyawan perusahaan, mahasiswa,” kata Sofyan kepada GATRA, Minggu (12/8).

Untuk pembiayaan program, RPPK mengandalkan urunan para anggota. Sesekali datang bantuan dari donatur, kadang juga mereka menggandeng pihak lain untuk bekerjasama.

Menyambut HUT RI ke-73 besok, RPPK mereka menggelar Parade Menulis Surat Terbuka kepada Gubernur Jawa Barat Peridoe 2018-2023, Ridwan Kamil.

Gubernur terpilih ini dinilai punya kepedulian terhadap anak-anak sehingga Kota Bandung kerap menyabet predikat Kota Layak Anak (KLA) saat ia menjabat Walikota.

Untuk proyek jangka delat tgl 19 kita adakah parade menulis surat terbuka untuk gubernur Jabar. Selain memprtingati hari 17 Agustus, kami juga ingin menuliskan keinginan anak-anak Kabupaten Karawang kepada gubernur baru tentang harapan-harapan mereka.


Rencana Besar Membangun Rumah Singgah

Membangun rumah singgah bagi anak-anak tunawisma adalah mimpir besar RPPK selanjutnya. Sudah ada lahan yang disediakan salah satu donatur di Kecamatan Teluk Jambe.

Rencananya rumah singgah ini berbasis lingkungan dan bisa menampung 20 anak. Yang diajarkan di sana bukan hanya calistung, tapi juga keterampilan lain yang bernilai ekonomi.

“Nantinya mereka kita edukasi pendidikan bercocok tanam, bank sampah dan bagaimana budidaya lele,” cerita Sofyan.

Mimpi ini berawal saat mereka melihat penertiban tunawisma yang dilakukan Pemkab Karawang. Setelah anak-anak terkena razia, sorenya mereka sudah dibebaskan dan kembali menggelandang. Artinya, kegiatan tersebut tidak efektif dan solutif.

“Buat saya itu tidak memutus mata rantai kemsikinan di kalangan anak jalanan. Kalau tidak dibina sedini mungkin kami khawatir ketika besar nanti dia menjadi preman atau melakukan tindakan kriminal,” ujarnya.


Reporter : Putri Kartika Utami
Editor : Mukhlison

Putri Kartika Utami
15-08-2018 17:18