Main Menu

Perlu, Edukasi Seks untuk Anak Usia Dini Hingga Remaja

Mukhlison Sri Widodo
04-09-2018 22:05

Sex education. (shutterstock_752517721/RT)

Jakarta, Gatra.com - Pendidikan seks di Indonesia masih dianggap tabu. Akibatnya, pemahaman anak-anak dan remaja mengenai hal tersebut tergolong sangat rendah. Untuk meningkatkan pemahaman anak dan remaja, orangtua tentunya memegang peran yang sangat penting. 

 

Orangtua seharusnya menjadi pihak yang paling dipercaya oleh anak mengenai seksualitas. Sehingga mereka dapat bertugas menyaring dan memberikan informasi yang tepat kepada anaknya. 

Menurut Psikolog Inez Kristanti, sejak usia dini 3 sampai 5 tahun, orangtua harus mulai memberikan anak pemahaman mengenai pengenalan bagian privat tubuhnya. 

“Kita kasih pemahaman mana bagian tubuh yang privat. Mana bagian tubuhmu yang boleh disentuh oleh orang lain, selain orangtuamu. Dan mana yang boleh diperlihatkan kepada oranglain.” jelas Inez saat ditemui dalam acara peluncuran kampanye edukasi kesehatan reproduksi remaja #Akudewasa di Chubb Square, Jakarta Pusat, Selasa (4/9). 

Lalu saat anak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), mereka sudah mulai memiliki ketertarikan kepada lawan jenis. Anak-anak sudah mulai dijelaskan peran dasar laki-laki dan perempuan dalam sebuah hubungan. 

Kemudian ketika anak di tahap menjelang pubertas, mereka perlu dijelaskan mengenai apa itu menstruasi dan mimpi basah, juga bagaimana cara menghadapinya. Mereka pun perlu diberitahu sebelumnya perubahan fisik dan psikis apa saja yang akan mereka alami. 

“Jangan sampai mereka kaget. Kadang-kadang orangtua malu memberitahukan hal tersebut. Sebaiknya dijelaskan oleh orangtua yang jenis kelaminnya sama. Ibu ke anak perempuannya, dan ayah ke anak laki-lakinya.”

Adapula hal yang perlu diwaspadai oleh para orangtua, ketika anak sudah pubertas, artinya mereka sudah memiliki dorongan seksual. 

“Ini yang terkadang kita lupa. Kita liat mereka masih lucu-lucu nggak mungkin lah dia nonton porno, ternyata iya,” Ucap Inez memperingatkan. 

Akhirnya pada tahap remaja, masa yang memiliki rasa ingin tahu tinggi. Menurut Inez, kuncinya adalah orangtua harus memberikan rasa aman yang dapat membuat remaja bebas bertanya terkait seksualitas dan organ reproduksi. 

“Jangan sampai mereka dapat dari internet yang sumber informasinya belum tentu kredibel dan rawan akan konten pornografi.” 

Untuk orangtua yang anaknya remaja, Inez pun menyarankan mereka tidak hanya berperan menjadi penasihat, namun juga pendengar yang baik. Agar bisa memahami pengetahuan dan pendapat anak dengan cara berdiskusi dan pemikiran yang terbuka. 

Maka, agar topik seksualitas yang sensitif ini tidak berlangsung canggung dan anak bisa terbuka dengan orangtuanya, sebelum memberikan edukasi seks, orangtua harus memastikan komunikasi antar keduanya sudah terjalin dengan baik. Seperti membicarakan hal seputar keseharian. 


Reporter: CH
Editor: Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
04-09-2018 22:05