Main Menu

Siapa Sangka, Drum Kayu Utuh Pemuda Cilacap Tembus Amerika dan Eropa

Rosyid
19-08-2017 20:36

Bahtiar Zulham di bengkel drum kayu utuhnya di Padangjaya Kecamatan Majenang Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: GATRAnews/Ridlo Susanto/AK9)

Cilacap, GATRAnews – Bahtiar Xulham (24 th) Seorang pemuda di Cilacap membuat alat musik drum yang terbuat dari kayu solid atau utuh. Hal itu lantaran dalam pengalamannya, drum kayu solid, bersuara lebih jernih dibanding kayu press industri pabrikan. Tak disangka, produksi terbatas ini diminati konsumen di Amerika dan Eropa.

Sang pembuat, Tiar, panggilan sehari-hari Bahtiar Zulham, mengatakan, tercatat, saat ini drum kayu utuh buatan tangan (hand made) itu itu sudah menyebar ke tujuh negara. selain Amerika Serikat, tercatat ada puluhan konsumen di enam negara lain di Eropa dan Asia yang sudah membeli drum kayu utuh yang diproduksinya. Enam negara tersebut adalah Jerman, Inggris, Spanyol Prancis, dan Irlandia di Eropa. Sementara, di Asia, tercatat ada dua negara yang konsumennya menggunakan drum buatannya, yakni Singapura dan Hongkong.

“Dari beberapa negara tersebut, Amerika dan Jerman adalah konsumen yang terbesar. Di Amerika, separuh dari 52 negara bagian sudah mengoleksi snare drumnya. Konsumen tersebar separuh negara bagian. Ada Texas, California, Arkansas, Ohio Massachutess juga ada,” ujar Tiar, Sabtu (19/8).

Dia menjelaskan, hampir seluruh konsumennya tak membeli dalam bentuk satu set lengkap drum, melainkan satu item perangkat drum. Terbanyak adalah pemesanan snare drum. Dia meyebut snare drum itu banyak dibeli oleh kolektor.

Tiar mengemukakan, satu snare drum rata-rata dijual dengan harga U$750 untuk jenis kayu mahoni. Namun, snare drum ukuran 7 inchi yang dibuat dari kayu lain, harganya berbeda. Paling mahal adalah snare drum kayu angsana keling yang mencapai U$1200 per item. Sementara, satu set drum kayu mahoni dijual dengan harga termurah U$5.000.

“Tergantung dari jenis kayu. Sekitar Rp7,5 juta untuk pasar lokal. Ada juga yang $900 atau sekitar Rp9 juta-an untuk jati. Kalau untuk 7 inchi ke atas itu harganya beda lagi. Penambahan sekitar U$50 per inchi,” jelas dia.

Sementara, kata Tiar, untuk kelas kayu diatasnya, seperti kayu jati dan angsana keling, mencapai U$12 ribu, atau kira-kira setara denggan Rp150 juta per set drum lengkap. “Yang lumayan itu Angsana Keling, harganya mencapai U$1.500. Hongkong, Singapura, Kanada, Italia, di Eropa, Jerman, Italia,” imbuhnya.

Dia mengakui, sementara ini, konsumen terbesarnya justru berasal dari luar negeri. Sedangkan pasar dalam negeri masih sepi peminat. Dia menyebut, penyebabnya adalah harganya yang masih terlalu tinggi untuk pasar dalam negeri. Selain itu, menyebut pasar dalam negeri masih branded oriented atau terpaku pada merk-merk tertentu yang sudah terkenal.

“Dalam negeri masih belum malahan. Paling banyak dari luar negeri. Tapi ya tidak apa. Berjalannya waktu saja lah,” tuturnya.

Tiar mengaku belum mendaftarkan merk dan ijin usahanya, apalagi ijin ekspor. Itu sebab, dia tak bisa memproduksinya dalam skala besar, meski kesempatan untuk itu ada. Dia menyebut, terkendala soal prosedur perijinan yang rumit dan besarnya biaya untuk perijinan. Dia beralasan, masih berproduksi dalam skala terbatas, sehingga pengirimannya masih berupa person to person. Itu sebab, pengiriman tak pernah terkendala. Namun, dia pun berharap agar pemerintah membantu industri kreatif yang banyak dilakukan anak muda di berbagai sektor.

“Tidak ada masalah. Sebab, saya memproduksinya terbatas dan berdasar pertemanan. Jadi, saya pun mengirim kepada teman saja,” ujar dia.

Selain itu, ia juga mengaku terkendala bahan baku yang minim. Kayu-kayu tertentu, seperti meranti, merbau dan angsana keling usia tua, hanya bisa diperoleh dari luar Jawa. Sementara, biaya untuk mengirim bahan baku amat mahal.

“Menunggu bahan baku bisa sampai setengah tahun atau lebih. terutama jenis kayu yang tidak ada di Jawa. Seperti misalnya meranti atau merbau,” pungkasnya.




Reporter: Ridlo Susanto
Editor: Rosyid

Rosyid
19-08-2017 20:36