Main Menu

Konser Dream Theater Dipindah ke Stadion Kridosono (Lagi?)

Rosyid
28-09-2017 14:36

Yogyakarta,GATRAnews - Lokasi konser 'Jogjarockarta' yang menampilkan grup rock dunia Dream Theater pada 29-30 September 2017 kembali dipindah. Awalnya konser tersebut digelar di Stadion Kridosono, kemudian diumumkan di Candi Prambanan karena semua izin disebut telah dipenuhi.



Namun, pada Kamis (28/9), panitia mengumumkan konser dikembalikan ke Stadion Kridosono. "Alasannya karena kendala teknis," kata promotor konser Anas Syahrul Alimi dari PT Rajawali Communication Indonesia selaku penyelenggara dalam rilisnya.

Konser ini diwarnai sejumlah penolakan. Setelah Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Prambanan menyatakan menolak konser itu pada Selasa (26/9), organisasi arkeolog memberi pernyataan senada pada Rabu (27/9).

Ikatan Ahli Arkeolog Indonesia (IAAI) meminta agar instansi pemerintah dan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko sebagai pengelola zona Candi Prambanan membatalkan izin kegiatan tersebut.

"Hal ini bertujuan agar tidak mengganggu warisan budaya dunia serta memenuhi ketentuan Undang-undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya pasal 86," kata Ketua IAAI W. Djuwita S. Ramelan.

Undang-undang itu menyebut pemanfaatan cagar budaya yang dapat menyebabkan kerusakan wajib didahului dengan kajian, penelitian, dan atau analisis mengenai dampak lingkungan dan diatur ketentuan pidananya.

IAAI mengimbau masyarakat agar menghormati situs-situs keagamaan milik masyarakat Indonesia meskipun undang-undang juga membolehkan pemanfaatan lain, yaitu untuk kepentingan agama, sosial, budaya, pendidikan, dan pariwisata.

IAAI mengingatkan UNESCO telah menetapkan Candi Prambanan sebagai World Cultural Heritage. Ia juga situs agama yang memiliki nilai sakral bagi umat Hindu sedangkan tempat konser masuk wilayah suci karena dalam lingkup pagar candi. Secara etika, menurut IAAI, penyelenggara seharusnya memperhatikan nilai kesucian yang dapat menyinggung perasaan umat beragama.

Berdasarkan hasil kajian atas konser Prambanan Jazz, 20-21 Agustus 2017, Tim Balai Konservasi juga menyimpulkan bahwa kebisingan melebihi ambang batas yakni 60 dB.

"Tingkat getaran 0,04 mm/detik, sementara ambang batas untuk getaran bangunan kuno dan bersejarah 2 mm/detik dapat menghasil efek merusak pada struktur ikatan batu- batu candi," ujarnya.

Atas sejumlah penolakan itu, promotor konser Anas Syahrul Alimi emoh menanggapi. "Semua prosedur dari dukuh sampai Mabes (Polri) sudah kami penuhi," kata dia singkat.






Reporter: Arif Koes Hernawan
Editor: Rosyid

Rosyid
28-09-2017 14:36