Main Menu

Ini Alasan Promotor Pindahkan Lokasi Konser Dream Theater

Rosyid
29-09-2017 07:12

Para pengisi konser jogjaROCKarta yang tampil sebelum Dream Theater dalam jumpa pers, Kamis (28/9). (GATRA/Arif Koes Hernawan/AK9)

Yogyakarta,GATRAnews - Promotor konser ‘JogjaROCKarta’ yang menampilkan grup rock dunia Dream Theater beralasan pindahnya lokasi dari Candi Prambanan ke Stadion Kridosono karena tidak ingin ada polemik yang membuat Indonesia bercitra buruk di mata dunia. Panitia menyayangkan protes  dari ahli arkeologi baru datang H-3 konser.



Dalam jumpa media di Hotel Hyatt, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (28/9), CEO Rajawali Indonesia Anas Syahrul Alimi mengatakan pemindahan konser murni dari pihaknya  dan tanpa tekanan dari luar.

“Kami bercita-cita menjadikan Candi Prambanan ini sebagai ikon pariwisata Indonesia. Kami merasa Prambanan adalah tempat yang tepat untuk grup band kelas dunia,” katanya.

Anas bercerita, sejak mengurus izin lokasi di Candi Prambanan, divisi Warisan Diplomasi Dunia (WDB)  di Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan langsung menolak.

Alasannya musik rock dengan suara keras membahayakan bangunan candi. Padahal, kata Anas, panitia belum menggelar presentasi acara ke Kementerian.

Karena itu,  Stadion Kridosono menjadi pilihan dan seluruh perizinan segera diurus.

Namun saat penjualan tiket di hari pertama ludes dalam tiga jam, Dirjen Kebudayaan kemudian mengundang panitia. Usai presentasi di depan 15 institusi, termasuk arkeolog, akhirnya izin diberikan pada 8 September.

“Dream Theater sebenarnya memberi apresiasi dan penghargaan soal Prambanan. Mereka bersemangat,” lanjutnya.

Namun pada H-3, Anas mendapat surat protes dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia untuk tidak menggelar konser di Candi Prambanan. Padahal sejak Sabtu (23/9) semua peralatan panggung sudah siap.

Karena tidak ingin terjadi polemik yang merusak citra Indonesia, Anas memutuskan untuk mengembalikan lokasi konser ke Stadion Kridosono yang izinnya sejak awal sudah dimiliki.

“Kami menyayangkan protes dari para ahli arkeologi yang sebelumnya mendukung dan itu disampaikan menjelang konser. Kenapa tidak dua minggu sebelumnya. Padahal Dirjen Kebudayaan mendukung penuh,” lanjutnya.

Karena ketidakjelasan regulasi, Anas khawatir pelaku industri kreatif lain akan mengeluh dan kapok.

Anas mengatakan Dream Theater tidak memasalahkan pemindahan konser dan memahami situasi tersebut. Sekitar 60% dari 15.000 tiket yang disediakan untuk dua hari pementasan telah terjual.

Adapun Direktur Utama PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Edy Setijono menyayangkan pemindahan konser. 

“Kami sepakat, penampilan Dream Theater akan lebih mengangkat nama Candi Prambanan di mata dunia. Secara teknis kami sudah siap, termasuk dengan tingkat kebisingan suara. Kami sudah komunikasikan dengan pusat,” jelasnya.

Edy mengatakan pihaknya tidak menerima surat keberatan konser dari IAAI. Sehingga ketika ada surat protes IAAI yang dimuat media, Edy mengaku terkejut.





Reporter: Arif Koes Hernawan
Editor: Rosyid




Rosyid
29-09-2017 07:12