Main Menu

Svara Samsara dari Indonesia Kejutkan Eropa

Cavin Rubenstein M.
13-12-2017 14:43

Grup musik perkusi asal Indonesia Svara Samsara tampil digelaran bertajuk Eropalia 2017. (Foto:Feri Latief)

Artikel Terkait

Deventer, Gatra.com -- Penampilan keempat seniman perkusi asal Indonesia yang tergabung dalam grup Svara Samsara membuat masyarakat penonton terkejut. Semula penonton mengira akan disuguhkan musik tradisonal Indonesiayang mengalun lembut. Namun di luar dugaan mereka tampil dinamis, modern namun sentuhan tradisionalnya tetap terasa. 

Saat tampil 6 Desember 2017 di gedung pertunjukan Schouwburg Deventer misalnya,  tak kurang dari 80 penonton yang datang. Di kota ini group musik Svara Samsara bahkan manggung dua kali dalam satu hari. Ternyata suhu udara yang mencapai 5 derajat celcius itu tak menyurutkan antusias warga sekitar untuk menonton. Mereka yang datang adalah para pecinta musik yang tinggal di Deventer, tapi ada juga yang dari luar kota.  

Saat musik dimainkan, hampir semua penonton berdiri dan bertepuk tangan atas penampilan pemusik perkusi yang dinamis dan modern. Padahal alat musik yang dimainkan adalah alat musik tradisional. Menurut Willy Overink, salah satu penonton warga Deventer, kemahiran, kekompakan dan team playing group musik ini luar biasa. Saat membawakan sebuah lagi, mereka bahkan berganti alat musik, namun iramanya tetap terus mengalun. Ada banyak variasi bunyi yang keluar dari alat yang mereka ditabuh.

Penonton yang sebagian besar warga Belanda keturunan Indonesia, baik tua ataupun muda terlihat menikmati pertunjukan ini sambil menggoyangkan badan mengikuti irama musik. Selama 3 jam pertunjukan, ada sekitar 7 sampai 11 lagu yang dimainkan dalam sekali pementasan.

Tahun ini, dalam acara Eropalia 2017, Svara Samsara manggung 7 kali di lima kota dan tiga negara. Yaitu Bierbeek (Belgia), Deventer, Denhaag dan Amsterdam (Belanda) dan Prancis. Selain manggung, mereka juga mengadakan workshop dan menjual CD music. Tak mengira antusias warga eopa begitu besar CD yang hanya 60 keping itu ludes terjual. Bahkan ada seorang ibu yang menangis karena tak kebagian CD tersebut. 

Menurut salah satu tim Svara Samsara, Rio yang bertugas sebagai sound engineer, hampir di setiap ruang pementasan, akustik ruangannya sangat baik. “Dan ini membuat pekerjaan saya jauh lebih ringan, kata Rio.

Sementara Agay, salah satu pemain perkusi mengatakan, saat menabuh alat musik, ia mendapat energi dari penonton.  

Sebagai manager, Arjan Onderdenwijngaard mengaku bangga karena Svara Samsara mendapat sambutan  dan dihargai warga Eropa. Di setiap venue mereka selalu mendapat standing ovation. "Saya melihat sendiri raut wajah penonton yang terharu mendengar irama musik yang dimainkan," kata Arjan. Perkusi bukan hanya ritmis tetapi juga melodis. Variasi bunyi dari alat perkusi tradisional Indonesia pun dimainkan dalam irama pop dan modern. Sepertinya, moto Svara Samsara " tradisi tetapi tidak tradisional". Sehingga musik ini tidak saja bisa dinikmati orang tua tetapi juga anak muda.

Group musik ini ternyata tidak hanya manggung, tetapi juga mengadakan workshop di sekolah music dan art yaitu di Etty Hillesum College Deventer. Peserta workshop yang kebanyakan anak remaja ini antusias mengikuti irama perkusi yang langsung diperagakan.

Svara Samsara adalah grup perkusi Rumah Kahanan yang beranggotakan empat orang pemusik muda Indonesia yang berbakat dan memiliki beragam latar belakang budaya dan pengalaman di dunia musik. Mereka adalah Agay, Ronal, Pele dan Kate. Satu di antaranya adalah murid drummer dan perkusionis legendaris Innisisri. Para pemusik ini melanjutkan dan mengembangkan karya dan misi yang telah dimulai oleh Innisisri di tahun 1994.

Dalam komposisi musik mereka, Svara Samsara memanfaatkan beragam instrumen tradisional Indonesia, termasuk di antaranya: Talempong, instrumen idiofonik dari tembaga yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Taganing, seperangkat drum dari Batak, Sumatera Utara, Rebana Hadrah, instrumen berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur,Jidor dan Gong Jawa dari Jawa Timur, Kendang Sunda dari Jawa Barat, Kancil, instrumen melodis dari bambu yang dimiliki oleh orkestra Jegog dari Bali, Rindik, instrumen melodis dari bambu yang berasal dari Bali, Ceng Ceng, alat perkusif dari Bali & Instrumen tiup dari masing masing dearah Indonesia. 

Alat-alat musik Indonesia ini dikombinasikan dengan alat musik perkusi tradisional maupun modern dari berbagai penjuru tempat di dunia.  Semua komposisi diciptakan oleh grup Svara Samsara, baik secara individual maupun bersama-sama.

Svara Samsara terbentuk di awal 2015 dan telah ikut serta dalam Jogja Percussion Festival (2015), Indonesia Drum & Perkusi Festival (2016). Dan Asia Tri Festival (2015), Ubud Writers dan Readers Festival (2016) dan Rainforest World Music Festival, Kuching Malaysia dan Europalia: Belgia, Belanda, Perancis (2017) yang berskala internasional.

Innisisri membuat konsep musik Kahanan untuk menciptakan  karya berdasarkan hasil eksplorasi  perkusi etnis yang digelutinya dan dimainkan sebagian besar dengan gabungan/ campuran alat perkusi tradisional dan alat perkusi barat.


Reporter : Yuke Mayaratih

Editor      : Cavin R. Manuputty

Cavin Rubenstein M.
13-12-2017 14:43