Main Menu

Belajar Sejarah Dari Koleksi Diecast Ekslusif

Hendri Firzani
18-03-2018 08:24

Rektor Universitas Mercu Buana, Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM. (Dok. UMB/FT02)

Jakarta, Gatra.com - "Like father like son." Idiom itu tepat untuk menggambarkan hubungan antara Rektor Universitas Mercu Buana, Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM, dan sang ayah, mantan Dirjen Bea & Cukai Soeharjo Soebardi. Keduanya punya kegemaran yang sama. Mengumpulkan diecast atau miniatur berbau sejarah. 


Sejak kecil, Aris, demikian ia akrab disapa, tinggal di Singapura bersama ibu dan satu adik laki-lakinya. Di saat itulah, laki-laki kelahiran Singapura, 24 Februari 1969, ini kerap dibelikan sang ayah miniatur atau diecast berbau sejarah. Dari miniatur pesawat-pesawat tempur, mobil-mobil tua, hingga miniatur prajurit dari berbagai negara.


Lama kelamaan Aris juga menyukai diecast dan miniatur sejarah. Ia kerap berburu sendiri untuk menambah koleksinya. Selain di Singapura, ia juga membelinya dari sejumlah toko mainan di Jepang dan Cina serta Eropa.

Koleksinya itu kemudian dikumpulkan dan dirawat dengan baik. Ayah dua anak ini bercerita bahwa hampir semua negara pernah ia kunjungi. Ia selalu menyempatkan diri mendatangi situs-situs ataupun toko yang menjual mainan tentang sejarah.


Kini, koleksi mainannya telah melebihi ratusan item. Baik dalam bentuk pesawat militer, tentara berbagai negara, maupun diaroma pertempuran-pertempuran legendaris di seluruh dunia. Termasuk pertempuran di masa perjuangan Indonesia juga ada.

Bahkan, Aris memiliki foto pilot pesawat Enola Gay yang melakukan pemboman Hiroshima, Robert Lewis, yang ditandatangani asli oleh Lewis.  Aris menempatkan seluruh koleksinya itu di ruangan seluas 80 meter persegi di lantai empat rumahnya di bilangan Pejompongan, Jakarta Pusat. Nilainya? bisa mencapai puluhan milyar rupiah.  

 

Ia menempatkannya di lemari-lemari kaca yang tersusun rapi dan terawat. Koleksinya itu juga kerap dipamerkan kepada para mahasiswanya di kampus UMB. ''Saya berharap bisa menjadi sarana pembelajaran tentang sejarah oleh mahasiswa, khususnya sejarah perjuangan bangsa,'' ujar Aris. 


 

Editor: Hendri Firzani 

Hendri Firzani
18-03-2018 08:24