Main Menu

KOBI: Kompensasi Tragedi Raja Ampat Terlalu Kecil

Rosyid
23-03-2017 18:43

Purwokerto, GATRAnews – Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) menganggap nilai ganti rugi atau kompensasi yang direkomendasikan pemerintah untuk diajukan kepada Noble Caledonia, sebagai operator Kapal Pesiar Caledonian Sky yang telah merusak terumbu karang di Perairan Kri Raja Ampat terlalu kecil.

Selain itu, KOBI juga mendesak Pemerintah RI untuk segera menangani tragedi tersebut dan menetapkan kejadian tersebut sebagai salah satu tragedi ekologi maritim nasional.

“Kompensasi ganti rugi yang direkomendasikan untuk diajukan kepada Noble Caledonia (operator Caledonian Sky, Swedia) sebesar US$1,28-1,92 juta merupakan jumlah yang jauh dari cukup untuk mengganti kerusakan ekosistem terumbu karang tersebut,” tandas Ketua KOBI Dr Budi Setiadi Daryono MAgr Sc, dalam siaran pers yang diterima GATRA, Rabu malam (22/3).

Budi menjelaskan, terumbu karang merupakan mahluk hidup yang perkembang-biakannya sangat lambat, dan tingkat maupun luasan kerusakan sebesar 13.533 m2 yang disebabkan oleh kecerobohan kapal Caledonian Sky telah menghancurkan terumbu karang di wilayah yang sangat dilindungi menurut Hukum Nasional dan Internasional, yaitu Kepulauan Raja Ampat, Papua.

“Kepulauan Raja Ampat merupakan habitat dari 537 jenis karang, yang menyumbang 75% jenis terumbu karang di dunia, yang memiliki peran penting ekologis bagi habitat perairan, serta manfaatnya bagi manusia,” ujarnya.

Untuk itu, KOBI merekomendasikan dan mendesak Pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), untuk secara aktif membentuk tim adhoc yang beranggotakan ahli-ahli di bidang konservasi sumber daya alam hayati dari seluruh Indonesia, mempermudah dan memfasilitasi upaya restorasi sebagaimana amanat PP No. 28 tahun 2011 tentang Pengelolaan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam.

“KOBI memandang kejadian ini tidak hanya terkait dengan kedaulatan kemaritiman dan konservasi sumber daya hayati bangsa Indonesia, namun  berharap kejadian ini dapat dijadikan pelajaran pahit yang tidak ternilai harganya bagi bangsa Indonesia, sehingga kejadian ini tidak diulangi di kemudian hari,” tegas Budi




Reporter: Ridlo Susanto
Editor: Rosyid

Rosyid
23-03-2017 18:43