Main Menu

Bantul Sulap Hutan Pinus jadi Wisata Negeri Dongeng

Rosyid
08-04-2017 22:29

Yogyakarta,GATRAnews - Kabupaten Bantul segera memiliki objek wisata yang menawarkan suasana negeri dongeng. Kehadiran rumah hobbit di kawasan hutan lindung menjadi cikal bakal wisata dongeng ini.

Berjarak dari kota Yogyakarta sekitar 20 kilometer ke selatan, rumah hobbit hadir sejak satu bulan lalu. Hobbit adalah makhluk dalam dongeng  karya JRR Tolkien yang bertubuh cebol, namun berani dan menjadi pahlawan. Hobbit terkenal sejak difilmkan Hollywood.

 

Berada di Desa Mangunan, Kecamatan Ndlingo, Kabupaten Bantul, objek wisata yang dikembangkan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Noto Wono ini menjadi bagian dari objek wisata Watu Sewu (Seribu Batu). 

 

Ketua Pokdarwis Noto Wono, Purwoharsono menjelaskan konsep negeri dongeng adalah pengembangan dari wisata edukasi keluarga.

 

“Kami memilih konsep dongeng untuk membedakan dengan objek wisata lain yang ada di DI Yogyakarta. Kondisi lingkungan yang berada di hutan lindung pinus mendukung keberadaan konsep ini,” jelasnya, Sabtu (8/4).

 

Tidak hanya itu, pemilihan dongeng menjadi tema utama karena pengelola ingin setiap pengunjung memahami bahwa dalam dongeng yang sering kali diceritakan, terutama dongeng lokal, memiliki nasehat besar tentang Tuhan, manusia, dan alam.           

 

Dalam konsepnya, di kawasan  seluas 2,2 hektar ini akan dibangun tujuh rumah hobbit yang bisa digunakan untuk menginap keluarga. Saat ini baru dua rumah yang dibangun sebagai proyek awal dan antusiasme pengunjung terbilang tinggi. Saat ini, Noto Wono sudah mengeluarkan anggaran sebesar Rp240 juta untuk mewujudkan rumah hobbit ini.

 

Selain itu, kegiatan pendukung lain, seperti gelaran lomba mendongeng, kegiatan anak-anak, serta berbagai sarana permainan juga akan dikembangkan di area wisata ini.

 

“Kami menargetkan sebelum lebaran, wisata negeri dongeng ini sudah bisa dinikmati masyarakat, demikian juga dengan empat objek lain di Ndlingo,” lanjut Ipong, panggilan Purwoharsono.

 

Di Kecamatan Ndlingo, ada tujuh objek wisata yang hampir semua mengandalkan alam sebagai nilai jual utama. Empat lainnya berada di hutan lindung pinus yaitu Puncak Becici, Pinus Asri, Lintang Sewu, dan Watu Sewu.

 

Dua objek wisata yaitu Bukit Mojo dan Ponggok mengandalkan pemandangan perbukitan dan aliran Sungai Oyo. Di dua objek wisata ini, pengunjung pada pagi hari dapat menikmati pemandangan kabut seperti negeri di atas awan.

 

“Sedangkan di Pengger, ada dua lokasi yang menawarkan pemandangan makam Keraton Yogyakarta dari ketinggian yaitu Watu Lawang, dan Watu Goyan,” kata Ipung.

 

Ipung menegaskan semua objek wisata ini berada di kawasan hutan lindung yang meliputi kecamatan Ndlingo dan Imogiri. Bekerja sama dengan Pemda Bantul, pengelola objek wisata membagi hasil pendapatan sebesar 75% untuk masyarakat dan 25% untuk pemerintah. Ketika memasuki puncak musim liburan, dalam seminggu Noto Wono mampu mendapatkan pemasukan Rp204 juta dan Rp108 juta pada hari biasa.

 

Disinggung mengenai kendala yang selama ini ditemui, Ipung memaparkan saat ini pengelola wisata membutuhkan lokasi parkir kendaraan yang aman serta pengaturan jalan agar tidak menimbulkan kemacetan terutama saat libur lebaran.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Bantul Supriyanto mendukung penuh keberadaan objek wisata dongeng yang digagas Noto Wono. Sebab itu akan menjadi nilai tambah pengembangan desa wisata yang saat ini sedang diprioritaskan Pemkab Bantul.

 

“Saat ini ada 39 desa wisata di Bantul yang hadir dengan karakteristik unik. Jika di bagian selatan, desa wisata lebih mengandalkan pemandangan laut sebagai nilai jual, kemudian di tengah dan barat mengutamakan kerajinan seperti Krebet dan Kasongan. Kemudian di timur mengandalkan hutan dan perbukitan,” jelasnya.


Reporter: Arif Koes Hernawan

Editor: Rosyid

Rosyid
08-04-2017 22:29