Main Menu

Motif Batik Lokal Asal Pelalawan Ajukan Hak Paten

Anthony Djafar
15-02-2018 12:05

Rumah Batik Andalan Mitra Binaan Departemen Community Development PT RAPP (M Egi Fadliansyah/yus4)

Pelalawan, Gatra.com - Indonesia dikenal memiliki beragam produk kerajinan yang dihasilkan. Salah satunya adalah batik. Ternyata batik tidak hanya menjadi ikon di pulau Jawa saja, namun kini sudah merambah ke berbagai daerah seperti yang ada di kerajinan batik Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.

 

Dari sejumlah tempat kerajinan yang dikenal di Pangkalan Kerinci, terdapat sentra batik buatan lokal produksi Rumah Batik Andalan. Mitra Binaan Departemen Community Development PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) ini berlokasi di kawasan komplek PT RAPP.

Adalah Siti Nurbaya, pengrajin batik Rumah Andalan yang mendirikan rumah batik tersebut sejak tahun 2014. Siti menceriitakan bahwa usahanya mulai dirintis dengan mengajak beberapa orang ibu-ibu rumah tangga sekitar. Seiring perkembangan dan banyaknya permintaan, maka dia pun merekrut beberapa tenaga untuk dikirim menjalani pelatihan di Jawa.

“Awalnya kita banyak kekurangan. Makannya kita sampe belajar ke Solo seminggu, Yogyakarta seminggu, hingga mendatangkan pelatih langsung dari Pekalongan juga. Alhamdullilah, saat ini produk sudah banyak yang pesan, bahkan Pemda di luar Kabupaten Pelalawan ada yang pesan ke kami,” katanya ketika ditemui GATRA di Rumah Batik Andalan, di Pangkalan Kerinci, Riau, Rabu lalu (14/02).

Siti mengatakan bahwa Rumah Batik Andalan memproduksi antara 150-200 lembar kain dengan omzet penjualan Rp 25 sampai Rp 30 juta per bulan. Kalu sedang ramai kadangkala mencapai Rp 100 juta perbulan.

“Penghasilan rata-rata Rp 2,5 sampai 3 juta per bulan untuk setiap anggotanya,” katanya.

Siti mengungkapkan bahwa produk Batik Pangkalan Kerinci memiliki ciri khas tersendiri dibanding produk dari rumah batik lainnya. Batiknya memiliki warna yang terang dan motifnya hasil capture dari kekayaan alam yang di miliki Kabupaten Kerinci.

"Salah satunya seperti motif batik Bono. Bono itu sendiri diambil dari salah satu fenomena alam yang terjadi di sungai Kampar. Yang mana, sungai tersebut memiliki gulugan ombak seperti di laut, " katanya.

Ada juga motif batik lainnya seperti batik ekaliptus, akasia, lakum, dan timun suri. Motif-motif tersebut, sudah memiliki hak paten tersendiri.

“Sedangkan masih tersisa lima motif batik lainnya sedang dalam proses pengajuan hak ciptanya,” katanya.


Reporter: MEF
Editor: Anthony Djafar

Anthony Djafar
15-02-2018 12:05