Main Menu

Mengembalikan Sang ”Venesia dari Timur”

Birny Birdieni
03-03-2018 06:55

Jembatan Ampera, Ikon Kota Palembang. (Dok. Pemkot Palembang/FT02)

Palembang, Gatra.com - Kota Palembang terus dipercantik. Sungai Musi yang membelah Palembang menjadi dua bagian --dengan jembatan Ampera sepanjang satu kilometer sebagai penghubung-- kini direvitalisasi hingga jadi lebih bersih dan indah.

 

Tidak tanggung-tanggung, Pemda Palembang mengalokasikan Rp 7,5 milyar pada 2018 untuk proyek revitalisasi ini. Upaya ini mencakup pembebasan lahan selebar 7 meter di setiap sisi sungai, memperdalam sungai, membersihkan dan mempercantik tepian sungai, lalu memoles tepian sungai dengan cat warna-warni. Untuk urusan yang terakhir ini, salah satu perusahaan cat bersedia menjadi sponsor.

Awal Februari lalu, tahap pertama proyek revitalisasi ini sudah selesai dengan meremajakan Sungai Sekanak, salah satu anak Sungai Musi. Sekanak hanya salah satu dari beberapa anak sungai yang membelah kota Palembang. Tiga anak sungai lainnya adalah Sungai Bendung, Sungai Buah dan Sungai Lambidaro.

Penyelesaian proyek revitalisasi sungai Sekanak --total memakan waktu sebulan-- ditandai secara simbolis dengan penggutingan pita oleh walikota Palembang, Harnojoyo. "Revitalisasi sungai Sekanak ini tahap awal dalam merevitalisasi sungai menjadi objek wisata," katanya. Setelah Sekanak, sasaran berikutnya akan diarahkan ke Sungai Bendung, lalu dua anak sungai lainnya.

Rani Arpani, 34 tahun, salah satu warga yang tinggal di sekitar Sungai Sekanak, menyambut gembira proyek ini. Dia bercerita bagaimana dulu Sekanak sebenarnya terkenal sebagai pusat perdagangan. Tapi lambat-laun, karena tidak dirawat, Sekanak mengalami pendangkalan hingga tidak bisa lagi berfungsi sebagai jalur transportasi, apalagi perdagangan.

Baru sejak tiga tahun lalu, katanya, Pemda Palembang mulai memperbaiki sungai Sekanak, yang lalu dilanjutkan dengan revitalisasi intensif selama sebulan terakhir. Kini Sekanak, yang kebetulan hanya berjarak 30 meter dengan kantor walikota Palembang jadi lebih bersih dan berwarna karena hiasan mural dan cat warna-warni di dinding tepian sungai. "Sekarang masyarakat makin ramai kembali ke sungai," kata Rani.

Tidak sekadar merevitalisasi sungai, Pemda Palembang juga menambah infrastuktur dengan pengadaan beberapa kapal wisata yang siap melayani turis. Kapal-kapal kecil ini bisa digunakan untuk menikmati wisata sungai Musi dari mulai menyusuri sungai Musi beserta anak-anak sungainya, sekaligus berhenti di beberapa lokasi wisata populer di sepanjang sungai.

Salah satu lokasi terkenal misalnya Pulau Kemaro, yang sebenarnya merupakan sebuah delta (endapan di muara sungai) di muara Sungai Musi. Nama Kemaro berasal dari kata "Kemarau", karena menurut legenda, pulau tidak pernah terendam air, bahkan ketika sungai Musi meluap sekalipun.

Daya tarik utama Kemaro adalah klenteng Hok Tjing Rio dan pagoda berlantai sembilan. Alkisah menurut legeda, Kemaro terbentuk dari kisah cinta seorang saudagar Cina, Tan Bun An dan Siti Fatimah, putri kerajaan Sriwijaya, setelah keduanya terjun ke sungai Musi. Di pulau ini juga terdapat pohon beringin yang disebut "pohon cinta" yang disebut muncul akibat kisah cinta tersebut.

Ada mitos bahwa bila pasangan mengukir nama mereka di pohon , maka cinta mereka akan abadi seperti legenda Tan Bun An-Siti Fatimah. Tapi mitos ini membuat pohon beringin ini jadi rusak karena dipenuhi ukiran nama para muda-mudi. Akhirnya pengelola kelenteng memagari pohon dan memasang papan peringatan bahwa justru banyak orang kesurupan karena mengukir namanya di pohon.

Lokasi lain yang juga bisa dikunjungi di sepanjang sungai Musi adalah kampung Arab Al Munawar. Ini merupakan kampung kuno dengan rumah-rumah terbuat dari kayu ulin. Ada delapan rumah di kampung ini yang sudah berusia lebih dari 250 tahun. Nama kampung Almunawar berasal dari Habib Abdurrahman al-Munawar, ulama asal Hadramaut, Yaman Selatan, yang datang ke Palembang pada awal abad 18 dan menyebarkan Islam di daerah tersebut.

Di kampung AlMunawar, pengunjung bisa berinteraksi dengan sekitar 300-an warga asli kampung Almunawar yang masih bermukim di sana. Wajah-wajah Arab mudah dijumpai. Ini karena kampung Almunawar merupakan kampung homogen. Ada aturan tidak tertulis bahwa wanita di kampung Almunawar tidak boleh menikah dengan pria non-Arab, karena akan membuat garis keturunan Arab di keluarga terputus. Tapi untuk laki-laki, mereka boleh menikah denga wanita non-Arab.

Tidak jauh dari kampung Almunawar, ada satu lagi lokasi wisata yang juga sering dikunjungi wisatawan, yaitu Klenteng Kwan Im atau Klenteng Tri Dharma Chandra Nadi (Soei Goeat Kiang), yang dibangun pada abad 17. Klenteng yang populer disebut Klenteng Dewi Kwan Im 10 ulu ini (karena berlokasi di daerah 10 Ulu), merupakan klenteng yang ramai dikunjungi, terutama pada sore hari. Tidak semua datang beribadah. Justru lebih banyak yang datang ke Klenteng 10 Ulu untuk menikmati pemandangan matahari terbenam, karena lokasi klenteng yang sangat strategis di hulu sungai.

Upaya keras Pemda Palembang merevitalisasi sungai Musi dan anak-anak sungainya memang bukan tanpa momentum. Pelaksanaan Asian Games 2018 pada bulan Agustus-September nanti dilihat sebagai momentum straregis untuk menggenjot pariwisata Palembang. Terlebih, menurut data Dinas Pariwisata Palembang, sampai 80% turis yang datang ke Palembang datang karena menikmati wisata sungai Musi.

Kepala Dinas Pariwisata Palembang, Isnaini Madani, menjelaskan selain meyambut momentum Asian Games 2018, proyek revitalisasi sungai Musi ini diharapkan juga bisa mengembalikan keindahan kota Palembang sebagai Venesia dari Timur atau Venice of the East. Julukan itu awalnya berasal dari penjajah Belanda karena melihat betapa kota Palembang sangat mirip dengan kota Venesia di Italia, karena wilayahnya dikelilingi oleh anak-anak sungai dari aliran induk sungai Musi.

Upaya revitalisasi sungai itu, yang sebenarnya sudah dimulai sejak tiga tahun lalu, kini mulai menunjukkan hasil. Menurut Isnaini, pada 2016 lalu jumlah wisatawan yang datang ke Palembang hanya 1,8 juta orang. Tapi pada 2017, jumlahnya meningkat menjadi 2,1 juta wisatawan. "Harapannya, sungai Musi bisa jadi destinasi wisata tingkat internasional seperti Venesia," katanya.

 


Reporter : Tasmalinda

Editor: Basfin Siregar

 

Birny Birdieni
03-03-2018 06:55