Main Menu

Ini Alasan Destinasi Digital dan Nomadic Tourism Jadi Program Prioritas

Wanto
22-03-2018 05:15

Ilustrasi (Dok. Kemenpar/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Rapat Koordinasi Nasional Pariwisata I yang digelar di Bali, 22-23 Maret 2018 bakal membahas destinasi digital dan nomadic tourism. Dua tema itu jadi program prioritas Kementerian Pariwisata.

 

Menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, dua hal ini bukan hanya menjadi solusi sementara, tapi untuk selamanya. "Saya selalu mengajarkan, hasil luar biasa pasti caranya tidak biasa. Yang biasa kita lakukan, seberhasil-berhasilnya yang biasa itu kemungkinan kita mengalahkan Thailand, susah. Bisa jadi follower," katanya, Rabu (21/3).

Arief memperkirakan, dua-duanya akan meledak. Ia mejelaskan, destinasi digital adalah destinasi yang ketika ada yang merancangnya. Si perancang memikirkan indahnya tampilan destinasi di kamera.

"Apakah ini akan berpengaruh mendatangkan orang luar? Buktinya setiap kita buat destinasi digital, ribuan orang datang ke sana. Mereka ini (GenPI) hebat. Karena telah memenuhi kebutan para netizen. Mereka ingin selfie, instagramable," kata Arief.

Saking hebatnya, Professor Renald Khasali bahkan ikut menulis soal destinasi digital. Kebutuhan seperti ini adalah kebutuhan untuk diakui. Tidak hanya terjadi di anak muda, tapi juga orang tua. "Kalau ini meledak di anak muda dan Indonesia, maka akan meledak juga di dunia," ujar.

Pria asal Banyuwangi ini pun optimistis target 100 destinasi digital akan tercapai tahun ini. Sebab, untuk menciptakan satu destinasi digital tidak membutuhkan anggaran yang sangat besar.

"Kalau enggak terjadi, kita gagal. Mereka saya tanya, biayanya berapa bikin ini? Ternyata hanya Rp 200 juta. Saya hitung-hitung, berarti saya butuh Rp 20 milyar untuk membangun 100 pasar. Ketika saya sudah tidak jadi menteri, harus bisa berdiri sendiri," katanya.

Menpar juga menjelaskan cara membuat destinasi digital, dan apa saja yang harus disiapkan. Menurutnya, yang terpenting semuanya bisa memiliki andil.

"Pemerintah daerah atau swasta bisa menyediakan lahannya. Minimal tidak akan terganggu selama setahun. Nanti orang-orang tinggal isi. Apakah mau urunan tanah, makanannya, dan sebagainya. Di nomadic tourism juga akan kita buatkan seperti itu," paparnya.

Arief berharap, apa yang dilakukan GenPI ini berhasil. Apalagi, destinasi digital ini memberikan income bagi GenPI dan masyarakat sekitar.

"Dapat uang dari mana? Paling banyak kuliner. 20% ke GenPI, 80% untuk pedagang, tapi yang parkirnya sepenuhnya untuk karang taruna. Destinasi digital harus ada wifi. Orang yang menggunakannya bayar Rp 1.000. Hasilnya banyak karena yang datang ribuan," kat Arief.

Dia mengungkapkan, destinasi digital ini sudah mulai dilirik industri. Tidak sedikit yang ingin melakukan co-branding. Bahkan situs pegipegi.com sudah mengajukan kerja sama dengan destinasi-destinasi digital milik GenPI ini.

"Genpi nanti berhak untuk marketing fee atas penjualan tiket melalui pegipegi.com. Nanti akan kita buatkan platform," ungkapnya.

Dijelaskannya, GenPI adalah komunitas anak muda yang idealis. Namun agar sustainable, harus ditunjang dengan komersial. Dan destinasi digital ini punya keduanya.

"Kalau diibaratkan, GenPI itu mahasiswa idealis. Yang mereka cari kreativitasnya dulu, baru cari duit. Sustain tentu butuh uang, tapi dia bisa bertahan karena idealis," ungkapnya.

Begitu juga dengan Nomadic Tourism, menurut Arief, ini merupakan solusi tercepat untuk mengimbangi program 10 Bali Baru yang sudah dicanang pihaknya.

"Lalu kita berpikir, keunikan kita apa? Kita punya 17 ribu pulau, 5 ribu desa. Nah, apa yang paling cocok dengan itu? Lalu tantangan berikutnya ketika saya membangun 10 Bali Baru, amenitasnya sangat susah. Mau membangun itu lamanya luar biasa. Saya sudah 3,5 tahun jadi menteri, kecuali Lombok, belum ada yang dibangun," ujarnya.

Akhirnya, Arief menginstruksikan Direktur Utama Badan Otorita Danau Toba dan Borobudur. Mereka diwajibkan mengembangkan program amenitas yang sangat cepat ini, yaitu nomadic tourism.

"Seperti apa nomadic tourism? Fisiknya seperti apa? Amenitas. Pertama, bentuk karavan. Tinggal beli saja karavan, sediakan di spot-spot terindah di Danau Toba dan Borobudur. Kedua, yang lebih tidak mobile adalah glam camp. Kalau karavan setiap hari, glam camp bisa setiap minggu atau setiap bulan. Ketiga, home pod, berupa rumah telur yang bisa dipindah-pindah," sebutnya.

Menpar mengaku tengah menyiapkan Wonderful Academy. Yaitu sebuah creative center untuk menyiapkan mereka dalam unsur bisnis. "Saya bagi dua. Yang idealis saya masukkan kelompok creative camp. Anak muda selalu ditakdirkan idealis. Kalau sudah ada unsur bisnis, saya masukkan ke creative center untuk membedakan. Idealis dan suistain, GenPI selalu akan digantikan oleh adik kelasnya. Kalau ada GenPI yang ke bisnis, kita sediakan inkubasi," katanya.


Reporter: Wanto
Editor: Iwan Sutiawan

Wanto
22-03-2018 05:15