Main Menu

Tradisi India Padang: Bermaulid dengan Serak Gula

Birny Birdieni
01-04-2018 15:42

Sejumlah warga berebut bungkusan gula pasir saat tradisi 'Serak Gula' di halaman Masjid Muhamadan, Padang, Sumatra Barat.(ANTARA/Iggoy el Fitra/re1)

Artikel Terkait

Halaman Masjid Muhammadan yang berada di Jalan Batipuah, Kelurahan Pasar Gadang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatra Barat, ramai dipadati warga sejak pukul tiga sore, dua pekan lalu. Ruas jalan sepanjang 200 meter itu sudah ditutup. Beberapa penjaga tampak sibuk mengatur warga dan kendaraan yang datang ke lokasi.

Di salah satu rumah di seberang masjid, sudah disiapkan gula sebanyak tujuh ton. Gula sebanyak itu dibagi ke dalam ratusan bungkus kain warna-warni seukuran kepalan tangan orang dewasa. Gula itu lalu diangkat ke atap teras masjid.

 

Sekitar pukul empat sore, usai salat ashar berjamaah di masjid Muhammadan, panitia pun mulai memberikan aba-aba melalui mikrofon. Panitia juga meminta agarratusan warga yang telah memadati halaman masjid Muhammadan agar menjaga ketenteraman. Ratusan warga itu diminta untuk mengambil posisi berbeda, perempuan di sebelah kanan, laki-laki di sebelah kiri --demi keamanan.

 

Usai membaca doa, dimulailah acara puncak: tradisi Serak Gula. Panitia yang berada di atap teras masjid mulai melemparkan gula yang dibungkus dengan kain warna-warni itu ke kerumunan warga. Sorak sorai, canda tawa, menggema dan ratusan tangan berebut menangkap gula. Sebagian memberi isyarat pada panitia agar gula dilempar ke arah mereka.

 

Sebuah mobil pemadam kebakaran yang sudah siap di sebelah kiri masjid sesekali menyemburkan air ke kerumunan, agar hawa panas sedikit terobati. Pukul lima sore, sebanyak tujuh ton gula itu pun habis.

 

Inilah tradisi yang hanya dilakukan masyarakat muslim India yang bermukim di Padang. Tradisi ini sudah dilakukan sejak 200 tahun lalu, saat nenek moyang muslim India berdatangan ke wilayah Padang. Waktu pelaksaaan tradisi ini selalu sama, yaitu tiap tanggal 1 Jumadil Akhir berdasarkan tahun Hijirah, yang jatuh pada 16 Februari lalu.

 

Ketua Panitia Festival Serak Gula, Iskandar, menjelaskan tanggal 1 Jumadil Akhir merupakan hari lahir Shahul Shamid, seorang ulama sufi di India abad 14 yang dikenal sebagai waliyullah dan memiliki banyak karomah. Shahul Hamid juga disebutkan merupakan keturunan Seikh Abdul Qadir al-Jailani, ulama sufi besar yang dijuluki "penghulu para wali".

 

Tradisi memperingati kelahiran (maulid) Shahul Shamid ini awalnya dilakukan di negeri asalnya, yaitu di Nagapattinam, Tamil Nadu, India. Tapi seiring migrasi masyakat muslim India ke Asia Tenggara, tradisi ini pun ikut dibawa. Saat ini selain di India, tradisi Serak Gula hanya dilakukan di dua lokasi, yaitu di Singapura dan di Padang. "Hanya keturunan India di Padang yang melakukan tradisi Serak Gula, daerah lain di Indonesia tidak ada," katanya.

 

Iskandar yang pernah datang ke Tamil Nadu, India, untuk menyaksikan sendiri tradisi Serak Gula di sana, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan perpaduan antara kebudayaan India dan ajaran Islam. Tradisi kuliner India kebetulan juga terkenal akan masakan manis. Maka itu tradisi Serak Gula, yang intinya berbagi gula ke masyarakat ini, pun muncul menyertai peringatan maulid Shahul Shamid. "Ini salah satu cara berbagi rezeki pada saudara yang kurang mampu," katanya.

 

Gula sebanyak tujuh ton yang disebar sore itu semuanya berasal dari sumbangan warga muslim India. Tidak cuma dari Padang saja, warga muslim India dari wilayah lain sudah hapal dan biasaya sudah mengirim gula ke Padang menjelang pelaksanaan tradisi Serak Gula.

 

Ketua Himpunan Keluarga India di Padang, Ali Khan Abu Bakar, menjelaskan bahwa pada festival kali ini gula itu datang dari Medan, Bengkulu, Jambi, Riau dan Jawa. "Mendekati 1 Jumadil Akhir, keluarga kami di rantau biasanya sudah tahu, gula mulai berdatangan," katanya.

 

Warga kota Padang juga menyambut meriah tradisi unik ini. Yetika Rahmi, ibu rumah tangga berusia 32 tahun, datang bersama anaknya yang berusia lima tahun. Ia juga ikut berebut gula yang dilempar panitia.

 

Menurut Yetika, tradisi ini unik karena siapa pun boleh datang. Tidak ada aturan bahwa gula-gula itu hanya untuk warga India. "Tradisi ini unik, sayang kalau dilewatkan," katanya.

 

Dalam pengamatan Gatra, memang tidak semua warga yang berkerumun berhasil mendapatkan gula. Ada yang dapat banyak, tapi ada juga yang tidak mendapat sama sekali. Namun itu tidak mengurangi kebersamaan sekaligus kegembiraan para warga ketika memperebutkan gula.

 

Dinas Pariwisata kota Padang juga sudah melirik tradisi unik ini sebagai salah satu potensi wisata daerah. Tahun ini, untuk pertama kalinya, Dinas Pariwisata kota Padang memberikan bantuan finansial kepada panitia untuk penyelenggaraan tradisi ini.

 

Menurut Medi Iswandi, Kepala Dinas Pariwisata kota Padang, selain bantuan finansial, Dinas juga menyiapkan tenaga pengamanan sekaligus tenaga kesehatan di lokasi. Sedang untuk pasokan gula, tetap disediakan sendiri oleh warga muslim India di Padang.

 

Medi juga menjelaskan bahwa Dinas akan mendiskusikan dengan komunitas muslim India di Padang agar pelaksanaan tradisi Serak Gula pada 2019 nanti bisa dibuat lebih besar sekaligus lebih meriah lagi. Karena itu kemungkinan akan ada beberapa tambahan acara hingga tradisi Serak Gula ini bisa benar-benar menarik sebagai festival pariwisata. "Kami akan diskusikan dengan keluarga India di Padang, ide apa lagi yang bisa kita gelar, sebagai agenda tahunan di Padang," katanya.


Rporter: Zulfikar Effendi (Padang)

Editor: Basfin Siregar

Birny Birdieni
01-04-2018 15:42