Main Menu

Menikmati Ayam dan Alam di Kampung Ingkung

Mukhlison Sri Widodo
05-05-2018 19:47

Restoran Ingkung Kuali di Kampung Ingkung, desa Kalakijo, Pajangan, Bantul, DIY. (GATRA/Arif Koes/FT02)

Yogyakarta, Gatra.com - Menyantap menu ayam utuh atau ingkung mungkin bukan lagi sajian istimewa karena banyak tempat makan yang menawarkannya. 

 

Namun jika menu ingkung itu disajikan di banyak warung di satu desa yang masih kental suasana alamnya, dengan cara pengolahan tradisional dan cita rasa khas, itu agaknya hanya bisa ditemui di Kampung Ingkung.

Kampung Ingkung berada di desa Kalakijo, Pajangan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jaraknya sekitar 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. 

Warung-warung yang menjajakan ayam ingkung bertebaran di desa ini. Bukan hanya milik pribadi warga, pihak desa pun turut mengelola satu restoran, Ingkung Kuali.

Tempat makan ini menjadi ikon Kampung Ingkung. Bukan hanya karena hasil swadaya dan gotong royong warga desa, tapi juga karena adanya bangunan aula semi terbuka inovatif yang seluruhnya terbuat dari bambu.

Pengelola  Ingkung Kuali, Dalhari, 54 tahun, menceritakan, riwayat Kampung Ingkung bermula dari sejumlah warga peternak ayam, Paguyuban Ayam Buras Jaya, pada 2010. 

Karena produksi ayam melimpah, sejak 2012 mereka mengolahnya menjadi kuliner khas setempat.

“Semua proses memasaknya  tradisional menggunakan kuali dan kayu bakar,” ujar dia sambil menunjukkan dapur Ingkung Kuali, Sabtu (5/5). Setiap hari, Ingkung Kuali memasak rata-rata 25-30 ayam.

Ayam ingkung disajikan dengan beberapa olahan, mulai original yakni dengan cara direbus dengan tambahan kuah santan, juga digoreng, dibakar, atau dibikin rica-rica. 

Pengunjung dapat memesan satu ayam utuh Rp130-Rp150 ribu yang bisa dinikmati 5-8 orang.

Untuk mereka yang tak mau merogoh kocek dalam-dalam, ada menu separuh ingkung. Pesanan juga bisa disajikan untuk ayam ukuran besar, sedang, dan kecil. Paket pesanan sudah termasuk nasi, sambal, dan lalapan.

Selain menu ayam, Ingkung Kuali punya kuliner spesial sego wiwit yang biasa disantap petani untuk merayakan masa panen. 

Selain itu, minuman khas wedang uwuh yang berisi aneka tanaman obat. Untuk sayur, ada sayur daun papaya dan urap.

“Masakannya enak. Bumbu ayamnya terasa. Harganya juga terjangkau. Bisa dinikmati rame-rame sama keluarga,” kata Sri Nurani, pengunjung dari Semarang,yang datang bersama anak, menantu, dan dua cucunya.

Bukan hanya sajian kuliner, Kampung Ingkung juga menyediakan paket wisata desa, termasuk untuk anak-anak. Antara lain paket belajar bertani dan outbond di sekitar ladang bambu di desa Kalakijo.

“Selain biar kompak, anak-anak juga bisa bermain dan mengenal alam di sini,” kata Uning Septi, orang tua siswa PAUD Aster 2 Guwosari, Pajangan, Bantul, yang mengantar putrinya bersama 20 anak yang mengikuti outbond.

Ingkung Kuali dikelola pihak desa. Semua hasil penjualan juga untuk kesejahteraan desa. Jika kebutuhan ayam kurang, Ingkung Kuali pun bisa memesan dari warga sekitar. 

“Yang masak di dapur kami semua ibu-ibu sini. Pelayan dan petugas yang beres-beres juga pemuda Kalakijo,” kata Dalhari.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
05-05-2018 19:47