Main Menu

Menggali Potensi Wisata Desa Panas Bumi Pangalengan

Mukhlison Sri Widodo
29-07-2018 09:08

Salah satu spot wisata di ke Desa Margamukti, Pangalengan, Bandung, Jawa Barat. (GATRA/Arif Koes/FT02)

Bandung, Gatra.com - Menyusuri rute berliku di antara kebun teh dan hutan pinus, lalu singgah di danau dan pemandian air panas, penangkaran rusa, hingga lokasi “horor” dari film populer menjadi daya tarik tersendiri ketika bertamasya ke Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. 

 

Sayangnya potensi wisata itu belum tergarap dengan baik. Selama ini, Margamukti dikenal karena kandungan panas buminya. 

Desa ini menjadi lokasi pembangkit listrik geothermal yang menyuplai 220 megawatt listrik kepada PLN untuk konsumsi Jawa, Bali, dan Madura sejak 2010.

Padahal potensi wisata desa berpenduduk 20 ribuan orang seluas 2500 hektar ini amat besar.

Margamukti menawarkan wisata panorama alam dan agrowisata seperti hamparan hijau kebun teh, hutan pinus dan trek sepeda di kaki Gunung Wayang dan Gunung Windu, juga areal tanaman sayur, buah, dan bunga yang dikelola warga.

Di desa sekitar 60 kilometer dari Kota Bandung ini, dengan kandungan panas buminya, terdapat beberapa pemandian air panas, yakni Widadari, Kertamanah, dan Sukaratu. 

Margamukti juga hanya 10 kilometer dari Situ Cileunca, tujuan wisata yang menawarkan aneka sensasi bertamasya di seputar danau seperti berperahu, flying fox, atau berkemah.

Untuk melengkapi wisata alam, wisata buatan pun dibangun seperti penangkaran rusa dan waterboom yang menarik untuk kunjungan keluarga. 

Salah satu objek wisata buatan yang belakangan ini menarik animo turis adalah rumah kuno milik PT Perkebunan Nasional. 

Bangunan dua lantai yang berdiri sejak 1893 itu dijadikan lokasi syuting film horor fenomenal “Pengabdi Setan” besutan Joko Anwar.

Untuk urusan kuliner, Margamukti mengolah dodol dengan aneka rasa dan bahan, serta minuman bandrek.

Hanya saja, berbagai potensi wisata itu belum terkelola secara optimal. “Selama ini objek wisata ada karena swadaya warga. Belum ada profit ke desa,” kata Kepala Desa Margamukti Agus Suherman kepada GATRA, Sabtu (28/7).

Dengan potensi dan kondisi itu, Margamukti menarik perhatian 30 mahasiswa Universitas Gadjah Mada. 

Untuk pertama kali, mereka menjadikan desa itu sebagai lokasi kuliah kerja nyata (KKN) pada 24 Juni – 10 Agustus 2018.

“Kami memetakan berbagai potensi wisata di Margamukti. Hasilnya kami menyusun cetak biru pengembangan wisata desa,” kata koordinator mahasiswa unit KKN Margamukti, Raden Aditya Aryo Wicaksono.

Cetak biru berisi sejumlah desain dan penyediaan sarana wisata. Laman wisatamargamukti.com juga dibuat untuk promosi di dunia maya. 

Keduanya diluncurkan saat puncak acara KKN, Pangalengan Geothermal Festival 2018, Sabtu (28/7), yang memamerkan berbagai potensi desa, dari produk usaha hingga pentas seni pelajar.

Kades Agus berharap, program pengembangan wisata ini berlanjut dan tak hanya berhenti di KKN kali ini. Harapan ini disambut Wakil Rektor Sumber Daya Manusia dan Aset UGM Bambang Agus Kironoto yang menyatakan UGM siap melanjutkan pengembangan wisata Margamukti.

"Kami coba mengikuti kesuksesan pengembangan wisata di lokasi geothermal di Lahendong, Sulawesi Utara. Ini bukan yang terakhir dan akan kami lanjutkan," kata Bambang.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
29-07-2018 09:08