Main Menu

Alumni Lemhannas PPSA XXI Dukung Pengembangan Wisata Bumi

G.A Guritno
17-08-2018 05:37

Ketua IKAL PPSA XXI Komjen Pol (Pur) Arif Wachjunadi menanam pohon gaharu disaksikan oleh para alumni PPSA XXI, Ketua Panitia Taman Bintang Samudera Thomas Yusman (berdiri), AM Putut Prabantoro (batik lengan pendek) dan Lina SE (berdiri). (Ist/FT02)

Pangkal Pinang, Gatra.com - Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) PPSA XXI mendukung gerakan “Bumi Sebagai Rumah Bersama” dengan mendorong masyarakat mencintai dan mengembangkan ekonomi wisata berbasiskan lingkungan hidup di daerahnya.

 

Hanya dengan mencintai lingkungan hidup di daerahnya, manusia akan terhindarkan dari berbagai bencana dan sekaligus berdampak memberi kehidupan ekonomi yang nyata.

Demikian pernyataan Komjen Pol (Pur) Arif Wachjunadi, Ketua IKAL Lemhannas PPSA XXI, saat acara peletakan batu pertama (ground breaking) pembangunan Taman Bintang Samudera di Sungailiat, Bangka.

Dalam kesempatan itu, bersama dengan pengurus IKAL Lemhannas PPSA XXI, antara lain Lina SE, AM Putut Prabantoro dan Thomas Yusman, Arif Wachjunadi menanam pohon di kawasan Taman Bintang Samudera (TBS)

TBS adalah taman wisata religi umat Katolik dengan komposisi 30% destinasi wisata religi dan 70% destinasi wisata umum yang oleh Wakil Gubernur Provinsi Bangka Belitung (BABEL) Abdul Fatah dikatakan akan menjadi ikon destinasi wisata lain di Bangka menyusul ikon-ikon yang sudah dan akan dikembangkan di provinsinya.

Sebelum ini, telah ada destinasi wisata religi Pagoda Nusantara, Puri Tri Agung untuk Agama Budha dan akan dibangun Mesjid Panglima Chengho serta dalam perencanaan Pura Hindu. Landscape TBS didesain oleh Sunaryo, seorang muslim dari Bandung, Jawa Barat.

“Konsep bumi atau ibu pertiwi sebagai Rumah Bersama perlu dijadikan gerakan seluruh Indonesia karena bumi adalah rumah untuk siapa saja tanpa melihat suku, agama, ras atau kelompok tertentu. Bumi memberikan kehidupan, makan, dan minum bagi rakyat. Kalau bumi tidak dirawat lalu, kita makan apa,” ujar Arif Wachjunadi.

Menurutnya, meskipun dianggap pekerjaan sederhana, merawat bumi merupakan pekerjaan sepanjang hidup manusia yang tidak pernah akan berhenti. Yang dilakukan sekarang baru akan dinikmati oleh generasi mendatang.

“Pewaris utama bumi Indonesia adalah anak cucu kita semua. Jika gerakan ini tidak diteruskan maka yang akan diwariskan kepada generasi penerus adalah bencana,” ujar Ketua Ikal PPSA XXI ini.

Oleh karena itu, Arif selalu melihat bahwa, jika tempat wisata termasuk wisata religi dibangun ada dua keuntungan yang diperoleh masyarakat sekitar, yakni perawatan lingkungan hidup dan ekonomi yang bertumbuh. Jika kedua hal ini tidak tercapai, bisa disimpulkan tempat wisata itu dibangun tanpa konsep atau bermotif lain.

Sementara itu, Thomas Yusman, Ketua Panitia Ground Breaking TBS, menandaskan bahwa taman ini memang menjadi destinasi baru wisata yang berada di Pantai Timur Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Pantai Timur Sungailiat. TBS bukan hanya milik masyarakat Provinsi Babel tetapi milik seluruh Indonesia karena dibangun bersama-sama dengan berbagai latar belakangnya.

“Tambang di Bangka sudah tidak seperti dulu lagi. Industri pariwisata merupakan peluang untuk kondisi bumi Bangka. Namun bagaimana menarik wisatawan, jika destinasi obyek wisatanya sedikit atau hanya itu-itu saja. Kami semua yang terjun dalam pembangunan ini menginginkan, TBS menjadi destinasi global. Dan ini hanya dapat tercapai melalui kerja bareng semua pihak,” ujar Thomas.

Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
17-08-2018 05:37