Main Menu

Komunitas Aboge Banyumas Baru Rayakan Idul Adha Kamis Pekan Depan

Mukhlison Sri Widodo
22-08-2018 20:08

Ribuan Anak putu Banokeling yang tersebar di Banyumas, Cilacap dan daerah-daerah lainnya menggelar tradisi Punggahan. (Foto: GATRA/Ridlo Susanto)

Banyumas, Gatra.com – Komunitas Banokeling, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah baru akan merayakan Idul Adha secara tradisi Kamis pekan depan (30/8).

 

Humas Tetua Adat Banokeling Sumitro mengatakan, dalam tradisi Banokeling, Idul Adha disebut sebagai Perlon atau Bada Besar. 

Anggota komunitas ini baru akan menggelar tradisi Perlon pada Kamis pasaran Pahing. Adapun tanggalnya adalah 17 bulan Besar atau Aji. 

“Banokeling sendiri kegiatan tradisinya kan Kamis pekan depan. Di sini kan pakainya bukan tanggal, melainkan hari terus,” katanya, Rabu (22/8).

Dia menjelaskan, untuk menentukan tibanya hari-hari besar, Komunitas Banokeling mendasarkan pada kalender Aboge. 

Lantaran tahun ini adalah tahun Dal, maka Idul Adha atau Perlon tiba pada hari Kamis Pahing. Adapun tanggalnya mengikuti hari yang menjadi dasar perhitungan.

“Makanya, kalau pas puasa, lebaran, pakainya juga hari, tanggal tinggal mengikuti saja. Perhitungannya, seperti contoh. Sini menghitungnya dengan Aboge, yang dicari harinya. Tanggal tinggal mengikuti saja,” jelasnya.

Menurut dia, meski baru merayakan Bada Perlon pada Kamis depan, Rabu ini, anak putu Banokeling juga bergabung dengan masyarakat Islam lain yang merayakan Idul Adha. 

Mereka juga turut membagikan daging hewan kurban yang dipotong hari ini.

Hanya saja, pekan depan komunitas Banokeling akan menggelar ritual secara terbatas pada anak putu atau keturunan Panembahan Banokeling yang biasa disebut anak putu.

“Seperti tahun lalu, Abogenya tanggal 21, yang sekarang tanggal 17, besok itu kan Kamis Pahing,” ujarnya.

Sumitro menjelaskan, sebelum menggelar ritual Perlon Kamis Pahing pekan depan, Kamis esok atau Kamis Kliwon, komunitasnya akan menggelar ritual rikat di makam atau panembahan Banokeling. Isinya yakni berdoa dan bersih-bersih area makam.

Selanjutnya, pada hari Bada Perlon pekan depan, komunitas Banokeling akan menjalankan ritual yang sama di makam Kiai Gunung. 

Mereka juga akan memotong hewan perlon atau kurban. Tahun ini, udah ada sejumlah anak putu yang mendaftarkan kambing untuk Perlon. Biasanya mendekati hari H, pendaftar akan semakin bertambah.

Pada Perlon tahun lalu, sebanyak 23 ekor kambing dipotong untuk dibagikan kepada masyarakat. Di tahun 2016, jumlah kambing Perlon 26 ekor ditambah dua ekor sapi.

Sumitro menambahkan, dalam kalender Alif Rebo Wage (Aboge), tahun 2018 ini adalah tahun Dal. Rumus perhitungan tahun Dal adalah Daltugi.  

Karenanya, tahun baru 1 Sura tiba pada Sabtu pasaran Manis. Dari perhitungan Sabtu pasaran Manis itu lah perhitungan untuk bulan-bulan lainnya didasarkan.


Reporter : Ridlo Susanto
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
22-08-2018 20:08