Main Menu

Biro Wisata Antisipasi Tahun Politik Agar Turis Asing Tak Berkurang

Hidayat Adhiningrat P.
06-09-2018 22:26

Wisatawan asing yang berkunjung ke Karimunjawa, Jepara.(GATRA/Arif Koes/re1)

Jepara, Gatra.com - Sejumlah biro wisata mengantisipasi dampak tahun politik 2019 terhadap iklim dunia pariwisata Indonesia. Turis asing yang akan datang selalu menanyakan situasi Indonesia terkini demi keamanan dan kenyamanan berwisata mereka.

 

Kepala Bidang Humas Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies Daerah Istimewa Yogyakarta (ASITA DIY) Moko Soediro sangat berharap tahun politik 2019 dapat dilalui dengan baik.

"Wisatawan asing perlu jaminan keamanan. Kami belajar dari tahun politik  2014. Jangankan chaos, ada isu saja jadi bahan pertimbangan mereka untuk datang ke Indonesia. Ekses tahun politik ini dieliminasi," ujar pemilik Kirana Tour, Yogyakarta, tersebut, di Jepara, Kamis (6/9).

Menurut Moko, pelaku usaha wisata pun berharap kondisi selalu kondusif. Hingga kini memang belum ada laporan pembatalan untuk jadwal kedatangan tahun depan, terutama dari 160 badan usaha anggota aktif ASITA DIY. Namun turis asing terus menanyakan kondisi Indonesia.

"Mereka menanyakan kondisi riil, toleransi, sampai perkembangan politik aliran, dan terorisme. Setiap ada isu selalu mereka tanyakan dan konfirmasi. Mereka ada keraguan dan minta garansi," ujar Moko usai mengikuti kunjungan ke Karimunjawa, Jepara, gelaran Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.

Atas permintaan itu, Moko berkata pelaku wisata pasti memberikan jaminan keselamatan terhadap turis asing. ASITA pun berkirim surat ke Kementerian Pariwisata.

"Kami minta surat jaminan keselamatan untuk wisatawan asing khusus untuk tahun 2019 dan sudah diberikan beberapa waktu lalu. Kementerian sudah mengupayakan itu dan membuat persiapan. Penanganan yang bagus bisa mengeliminasi isu-isu yang tidak bagus," kata Moko.

Anggota Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Erwin Santoso juga yakin akan efek tahun politik ke dunia wisata.

"Pemilu itu sangat berpengaruh apalagi kalau sampai suhu politik panas. Apalagi di luar negeri berita bisa dilebih-lebihkan," ujar pemilik usaha Permata Tour, Yogyakarta, ini.

Bahkan, pada tahun politik 2014, Erwin menyebut bisnis wisatanya sampai anjlok 50%. "Makanya jangan sampai kampanye panas. Setelah (demonstrasi) 212 itu juga pengaruh. Itu sensitif banget. Apalagi kalau sampai rusuh dan terbit travel warning," kata Erwin yang sering melayani turis Singapura, Malaysia, dan Korea.

Menurut dia, saat ini wisatawan mancanegara melihat perkembangan Indonesia, belum sampai membatalkan kunjungan tahun depan.

"Mereka masih wait and see, melihat situasi. Jangan sampai datang pas masa kampanye. Mendekati pemilu memang akan makin sepi. Kami hanya berharap dan berdoa semua lancar. Jangan sampai ada keributan," katanya.

Menyambut tahun politik, Ketua Umum ASPPI Djohari Somad bahkan mengimbau anggotanya yang berjumlah sekitar 4000 orang untuk menahan diri bersikap dan berkomentar di dunia maya.

"Ini upaya kami sebagai pelaku wisata untuk meredam, meskipun susah karena di medsos (media sosial) ini tidak terasa, apalagi kalau menyangkut pilihan politik. Walau mungkin tidak berpengaruh, kami tidak menambah. Kalau ada anggota yang kasar, kami tegur," tutur dia.

Menurut Djohari, industri pariwisata menyangkut hajat hidup banyak pihak, dari wisatawan, pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat.

"Sebab kalau chaos, pelaku wisata dan masyarakat juga yang kena dampaknya. Kalau turis ramai, beli minuman untung Rp500 saja kembali ke masyarakat," kata pemilik Multi Tours, Jakarta, yang melayani perjalanan lintas negara ini.

Selain itu, ASPPI juga menyesuaikan kegiatan anggota di tiap daerah agar tak berdekatan dan bertepatan dengan acara politik. Dari 25 pengurus daerah, tahun ini ada 18 kegiatan bursa wisata.

"Pada Rakernas ASPPI November 2018 ini, kami akan bahas acara-acara bursa wisata di daerah untuk tahun depan. Jangan bikin di tanggal-tanggal tertentu karena bareng kegiatan politik," katanya.


Reporter: Arif Koes Hernawan
Editor: Hidayat Adhiningrat P

Hidayat Adhiningrat P.
06-09-2018 22:26