Main Menu

Karimunjawa Mengejar Raja Ampat

Mukhlison Sri Widodo
09-09-2018 12:10

Pesona Karimunjawa.(GATRA/Arif Koes/re1)

Jepara, Gatra.com – Panorama bawah laut dan pantai menjadi pesona utama tujuan wisata kepulauan di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, ini. Dengan pembenahan dan pengelolaan pariwisata lestari atau sustainable tourism, bisa menempati posisi kedua setelah Raja Ampat.

Lilik Riyanto, pemilik biro wisata dari Semarang, mengingat kunjungannya ke lokasi ini, 13 tahun silam. “Waktu itu, alang-alangnya masih setinggi dada,” ujar dia. Ketika itu, pantai pulau Menjangan Kecil ini juga telah dikelola pemiliknya dengan menarik tarif untuk nelayan lokal.

Saat menyambangi lagi pulau itu, 4-6 September, lalu, Lilik takjub. Rumput tinggi sudah tak ada, berganti bungalow dan gazebo kayu. 

Karena penggunanya  banyak turis mancanegara, tempat itu diberi nama Kampung Bule. “Sekarang banyak kapal wisatawan asing berjejer-jejer ke sini,” katanya.

Lilik singgah di Kampung Bule bersama rombongan sekitar 25 orang pelaku usaha wisata se-Jawa yang diboyong Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata, Pemprov Jateng, untuk mengenalkan lagi potensi wisata andalan Jateng—selain Borobudur, Dieng, dan Sangiran—itu.

Di Kampung Bule, selain pantai pasir putihnya, pengunjung dapat menikmati panorama pantai, terutama saat matahari terbenam. Di sisi berlawanan dari spot sunset di pulau ini, perairan Menjangan Kecil juga menjadi tujuan aktivitas snorkeling.

Dengan menyewa perahu motor nelayan lokal, spot ini dapat dicapai dari dermaga Karimunjawa sekitar 30 menit. 

Byurrr! Begitu perahu mengikat sauh, rombongan langsung menyelam dan menikmati panorama bawah laut yang diramaikan ikan-ikan hias.

Seorang nelayan, Sirkam, menjelaskan, ada sekitar enam spot snorkeling terdekat dari dermaga. “Sekarang sedang angin timur. Jadi harus dipilih lokasinya melihat cuaca. Kalau cerah, seperti bulan Agustus lalu, total ada sekitar 10 spot,”kata dia.

Salah satu yang menarik adalah spot Kapal Karam. Sesuai namanya, spot snorkeling ini memanfaatkan lokasi tenggelamnya sebuah kapal niaga tujuan Kalimantan pada medio tahun 2000-an.

Setelah snorkeling, saat tiba waktu makan siang, wisatawan dapat singgah di Tanjung Gelam. Pantai ini berada di ujung timur Pulau Karimunjawa, sehingga dapat ditempuh via perjalanan darat. Dari Menjangan Kecil, kapal tinggal melaju ke arah utara.

Pantai Tanjung Gelam juga indah dihiasi pasir putih dan pepohonan. Warga juga membuka warung-warung lokal dan menyediakan bangku dan ayunan untuk nongkrong. 

Wisatawan dapat bakar-bakar ikan di sini atau menikmati bekal pindang serani—masakan ikan khas Karimunjawa.

Selepas perut kenyang, wisata bahari belum usai. Tujuan berikutnya spot snorkeling lain, Gosong Cemara. Lokasinya tak jauh dari pulau Cemara Kecil, hampir satu jam arah barat dari Tanjung Gelam.

Spot ini menawarkan pesona terumbu kerang. Dengan permukaan air laut yang jernih, keindahan  bawah lautnya sudah tampak dari permukaan. Bule-bule pun menjadikan spot ini lokasi favorit snorkeling.

Para pelancong bisa mengabadikan momen berenang di antara batu-batuan yang mekar di laut ini. Tapi, hindari pijakan ke terumbu karang. Selain bisa melukai kaki, hal ini demi konservasi alam Karimunjawa yang terus diupayakan, termasuk lewat status kawasan ini sebagai Taman Nasional.

Selain wisata bahari, Karimunjawa juga menawakan pesona alam dan budaya kepulauan. Di Pulau Kemujan, yang hanya terpisah oleh jembatan kecil dari Karimunjawa, ada treking mangrove sepanjang 1,3 kilometer dan menara pandang 8 meter.

Ada 13 burung dan 11 tanaman di sini. “Ini satu-satunya mangrove alami di Jateng,” kata pengelolanya, Iwan Setiawan. Di Kemujan juga tersisa sedikit rumah panggung suku Bugis—satu dari enam etnis di Karimunjawa: Jawa, Madura, Buton, Mandar, dan Bajo.

“Bahan rumah dari kayu kalimantan. Sekarang harganya mahal. Jadi mulai ditinggalkan,” ujar Mutakin, 43 tahun, seorang keturunan Bugis. 

Kakeknya saat usia 9 tahun berlayar dan mukim di Karimunjawa demi mencari hidup yang lebih baik. “Ikan di sini banyak, tanah masih luas.”

Pada momen tertentu, warga Karimunjawa menggelar tradisi barikan, upacara syukuran dengan berbagi nasi tumpeng dan arak-arakan. Di sisi spiritual, Karimunjawa menjadi petilasan dan makam Sunan Nyamplungan, tetua pulau ini.

Sebagai cenderamata, wisatawan dapat mencari kerajinan berbahan kayu-kayu khas Karimunjawa: dewandaru, setigi, dan kalimasada. Menghabiskan senja sambil mengaso, wisatawan dapat ngopi dan foto-foto di Bukit Love, spot wisata buatan di lereng bukit dengan latar lanskap Karimunjawa.

Selain melalui kapal laut dari Semarang dan Jepara, Karimunjawa dapat dituju via pesawat dari Semarang dan Surabaya. Untuk menginap pun sudah tak masalah karena banyak hotel, penginapan, dan homestay tersedia, termasuk hotel milik pemprov Jateng, Karimunjawa Inn.

“Ini hotel pertama dan tertua di Karimunjawa karena berdiri pada 1990-an,” kata Kepala Seksi Pelayanan Informasi dan Pengembangan Sarana Prasarana Pariwisata Disporapar Jateng Yudo Trilaksono yang juga mengelola hotel pemprov di Kopeng, Baturraden, dan Tawangmangu.

Para pelaku usaha wisata memuji sekaligus mengevaluasi Karimunjawa. “Karimunjawa ini detinasi kelas dunia, second layer Raja Ampat,” kata Ketua Umum Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia, Djohari Somad. 

Namun ia meminta warga dan komunitas wisata lokal membenahi layanan dan ketertiban di Karimunjawa."Kepedulian masyarakat pada wisata dan mindset hospitality harus dibentuk meski butuh waktu lama," ujar pengusaha travel internasional ini.

Kepala Bidang Humas Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies Daerah Istimewa Yogyakarta Moko Soediro menyebut perlu memilah tempat wisata untuk turis asing dan domestik. 

Sebab turis asing telah mengenal Karimunjawa, termasuk menjadi alternatif tujuan ketika Lombok diguncang gempa. "Satu-dua hari ini ramai karena mendapat limpahan dari Lombok," kata Moko.

Selain itu, perlu diatur wisata segmen khusus dengan pengunjung terbatas dan spot umum yang boleh didatangi secara massal. “Agar Karimunjawa menjadi sustainable tourism, pariwisata yang berkelanjutan atau lestari,” ujarnya.


Reporter: Arif Koes
Editor: Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
09-09-2018 12:10