Main Menu

Kontras: Polri Harus Tangkap Aktor Intelektual Penganiaya Petani

Tian Arief
29-09-2015 10:37

Aksi solidaritas pembunuhan petani penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim Kancil (ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

Jakarta, GATRAnews - Aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Ananto Setiawan mengatakan, Polri harus mencari aktor intelektual (dalang) di balik kasus pembunuhan, penganiayaan, dan teror terhadap warga Desa Selok Awar-Awar, di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Salim Kancil, seorang petani yang giat berjuang menolak pertambangan di daerahnya, Sabtu (26/9), dibunuh secara keji oleh sekelompok orang. Selain itu, Tosan, seorang petani lainnya, kini dalam kondisi kritis, akibat dianiaya anggota kelompok yang sama.

Sebelumnya kejadian ini, lanjut Ananto, warga melapor ke Polres Lumajang bahwa mereka mendapatkan teror dan intimidasi akibat menolak tambang. Pihak kepolisian berjanji membentuk tim khusus menyelidiki hal itu, tetapi tidak pernah ada kabar.

"Kami menduga, pemerintah setempat dan polisi sudah tahu keberadaan tambang itu merugikan masyarakat, namun tidak melakukan apa pun untuk menindaklanjuti temuan dan laporan warga itu," tuturnya kepada Antara.

Oleh karena itu, Kontras meminta Polri melakukan penyelidikan yang jujur dan adil terhadap kasus petani di Lumajang, beserta pertambangan ilegal di daerah itu.

Pendapat senada juga diutarakan Kepala Departemen Penguatan Organisasi Rakyat Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Kent Yusriansyah. Menurutnya aktor intelektual tersebut harus dihadirkan dalam proses persidangan yang transparan.

"Karena konflik agraia ini tidak hanya terjadi di Lumajang saja," ujar Kent.

Berdasarkan catatan Tim Advokasi Tolak Tambang Pasir Lumajang, massa awalnya melakukan penganiayaan terhadap Tosan dengan menggunakan berbagai benda tumpul, bahkan korban sempat dilindas dengan sepeda motor hingga mengalami luka parah dan dilarikan ke Puskesmas setempat.

Setelah menganiaya Tosan, massa yang berjumlah sekitar 30 orang itu menuju ke rumah Salim Kancil, yang sedang menggendong cucunya. Korban dipukul dengan kayu dan batu, kemudian korban diseret menuju ke balai desa setempat sekitar dua kilometer dari rumah korban dan mendapat penyiksaan yang tidak manusiawi hingga pegiat penolak tambang pasir itu meninggal dunia.


Editor: Tian Arief

Tian Arief
29-09-2015 10:37