Main Menu

KPA: Modus Konflik Agraria Selalu Sama

Tian Arief
29-09-2015 10:51

Aksi solidaritas kasus pembunuhan petani penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim Kancil (ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

Jakarta, GATRAnews - Kepala Departemen Penguatan Organisasi Rakyat Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Kent Yusriansyah mengatakan, modus konflik agraria yang terjadi antara pengusaha dan warga masyarakat hampir selalu sama. Awalnya ketika akan membuka kawasan pertambangan, perkebunan atau lainnya, perusahaan akan melakukan intimidasi kepada warga agar menerima kehadiran industri tersebut dan menyetujui tindakan mereka mengeksplorasi sumber daya alam.

"Kemudian modus selanjutnya adalah pihak pengusaha melakukan usaha-usaha menciptakan konflik horizontal di tengah masyarakat," kata Kent kepada Antara, di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (28/9).

Akibatnya, lanjut Kent, ruang produksi rakyat berupa lahan-lahan pertanian akan terganggu. Hal ini kemudian diperparah oleh adanya perampasan lahan tanpa prosedur yang jelas.

Kent menuturkan, konflik-konflik inilah yang membuat potensi terjadinya pelanggaran hak asasi manusia (HAM) makin tinggi. Seperti yang terjadi pada Sabtu (26/9), ketika seorang petani meninggal dunia dan seorang lainnya kritis akibat dianiaya sekelompok orang, di Desa Selok Awar-Awar, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Peristiwa tersebut diduga karena kedua petani tersebut giat melakukan penolakan terhadap penambangan pasir ilegal di daerahnya.

Berkaca dari kejadian itu, KPA meminta Kementerian Hidup dan Kehutanan untuk melakukan audit terhadap perizinan perusahaan-perusahaan yang melakukan pertambangan.

Kemudian, meminta pemerintah menegakkan hukum dengan adil dan jujur agar dijadikan acuan untuk konflik-konflik agraria yang lazim terjadi di Indonesia.

Berdasarkan catatan Tim Advokasi Tolak Tambang Pasir Lumajang, peristiwa penganiayaan yang menewaskan Salim Kancil dan membuat Tosan dalam keadaan kritis pada Sabtu pekan lalu, berawal dari massa yang melakukan penganiayaan terhadap Tosan.

Petani malang itu dianiaya menggunakan berbagai benda tumpul, bahkan korban sempat dilindas dengan sepeda motor hingga mengalami luka parah, dan dilarikan ke Puskesmas setempat.

Setelah menganiaya Tosan, massa yang berjumlah sekitar 30 orang itu menuju ke rumah Salim Kancil yang sedang menggendong cucunya. Korban dipukul dengan kayu dan batu, kemudian korban diseret menuju ke balai desa setempat sekitar 2 kilometer dari rumah korban dan mendapat penyiksaan yang tidak manusiawi hingga pegiat penolak tambang pasir itu meninggal dunia.


Editor: Tian Arief

Tian Arief
29-09-2015 10:51