Main Menu

Kejagung Periksa Kasi Pemeliharaan Sudin PU Tata Air Jakbar

Iwan Sutiawan
07-10-2015 12:32

Kejaksaan Agung (GATRA/Dharma Wijayanto)

Jakarta, GATRAnews - Penyidik pidana khusus Kejaksaan Agung (Kejagung) memeriksa Nurhadi, Kepala Seksi Pemeliharaan Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Barat tahun 2013, untuk melengkapi berkas kasus korupsi dengan tersangka Monang Ritonga.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Amir Yanto, di Jakarta, Rabu (7/10), mengatakan, penyidik memeriksa Nurhadi sebagai saksi hari Selasa kemarin bersama dua orang bawahannya, yakni Ahlan dan Juhri. "Ahlan dan Juhri keduanya sebagai Staf Seksi Kecamatan Tambora Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Barat tahun 2013," kata Amir.

Kepada ketiga saksi, penyidik menanyakan tentang kronologis benar atau tidaknya terdapat pekerjaan pemeliharaan dan operasional infrastruktur pengendali banjir pada Sudin PU Tata Air Jakbar tahun anggaran 2013.

Pekerjaan itu berupa pemeliharaan infrastruktur saluran lokal, pemeliharaan saluran drainase jalan, pengerukan dan perbaikan saluran penghubung, serta refungsionalisasi sungai atau kali dan penghubung yang dilaksanakan oleh para saksi pada periode November 2012 sampai dengan April 2013.

Penyidik juga menanyakan pertanggungjawaban hasil pelaksanaan pekerjaannya, serta dugaan pemotongan dana pekerjaan berikut upah pekerja yang seluruhnya diduga fiktif untuk wilayah Kecamatan Tambora untuk saksi Ahlan, Kecamatan Kalideres untuk saksi Juhri, dan beberapa wilayah kecamatan yang dikelola sendiri untuk saksi Nurhadi.

Penyidik juga memanggil 4 orang lainnya untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi tersangka Monang Ritonga. Mereka adalah Syahruli Safei selaku Kepala Seksi Kecamatan Tambora Sudin PU Tata Air Jakbar tahun anggaran 2013.

Kemudian, Urip M selaku Staf Seksi Kecamatan Tambora Sudin PU Tata Air Jakbar 2013, Amir Pangaribuan selaku Kepala Seksi Kalideres Sudin PU Tata Air Jakbar tahun anggaran 2013, dan Ahmad Tjaryanto selaku Staf Seksi Kecamatan Kalideres Sudin PU Tata Air Jakbar 2013.

"Saksi Syahruli Safei, Urip M, Amir Pangaribuan, dan Ahmad Tjaryanto, tidak hadir memenuhi panggilan penyidik tanpa keterangan," kata Amir.

Dalam kasus ini, penyidik telah menetapkan 3 orang tersangka dan mencegahnya pergi ke luar negeri. Ketiganya yakni Wagiman, Kepala Bidang Sistem Aliran Barat Dinas Tata Air Provinsi DKI Jakarta dan mantan Kasudin PU Tata Air Jakbar periode April-Agustus 2013.

Kemudian, Monang Ritonga selaku Kepala Bidang Sungai dan Pantai Sistim Aliran Timur Dinas Tata Air Provinsi DKI Jakarta dan mantan Kasudin PU Tata Air Jakbar periode November 2012- April 2013. Terakhir, Pamudji selaku Kasudin Bina Marga Kota Administrasi Jakbar dan mantan Kasudin PU Tata Air Jakbar periode Agustus 2013-Desember 2013.

Kejagung menetapkan ketiganya sebagai tersangka melalui surat perintah penyidikan (sprindik) Nomor: Print – 78/F.2/Fd.1/07/2015, tanggal 28 Juli 2015 untuk tersangka Wagiman.  Sprindik Nomor: Print – 79/F.2/Fd.1/07/2015, tanggal 28 Juli 2015 untuk tersangka Monang Ritonga dan Sprindik Nomor: Print – 80/F.2/Fd.1/07/2015, tanggal 28 Juli 2015 untuk tersangka Pamudji.

Penetapan ketiga tersangka tersebut bermula dari empat kegiatan pekerjaan swakelola pada Sudin PU Tata Air Jakbar tahun anggaran 2013 senilai Rp  66.649.311.310 (Rp 66,6 milyar).

Adapun keempat kegiatan tersebut, yakni pemeliharaan infrastruktur saluran lokal, pemeliharaan saluran drainase jalan, pengerukan dan perbaikan saluran penghubung, serta refungsionalisasi sungai atau kali dan penghubung.

Namun pelaksanaanya diduga tidak sesuai dengan pertanggungjawaban laporan kegiatan maupun laporan keuangan dengan memalsukan sejumlah dokumen dalam dua laporan, sehingga seolah-olah pekerjaan itu sudah dilakukan pihak ketiga.

Akibat kasus ini, berdasarkan perhitungan sementara, negara diduga mengalami kerugian keuangan sekitar Rp 19.932.825.000 (Rp 19,9 milyar. Kerugian ini akibat dari pemotongan anggaran kegiatan yang dilakukan oleh ketiga tersangka.

Rincian pemotongan tersebut, yakni Rp 3.984.697.000 (Rp 3,9 milyar) oleh tersangka Monang Ritonga, Rp 7.036.653.000 (Rp 7 milyar lebih ) oleh tersangka Wagiman, dan Rp 8.911.475.000 (Rp 8,9 milyar) oleh tersangka Pamudji.


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief

Iwan Sutiawan
07-10-2015 12:32