Main Menu

Hasanuddin: Pemondokan Haji Selalu Lewat Calo

Iwan Sutiawan
02-11-2015 15:32

Ilustrasi : Rombongan Keberangkatan Haji (GATRAnews/Adi Wijaya)

Jakarta, GATRAnews - Mantan pegawai honorer KJRI Jeddah yang menjadi calo pemondokan haji, Hasanuddin bin Asmat, dalam kesaksiannya mengungkapkan, panita penyelenggara haji yang mengurusi pemondokan calon haji tidak mau menerima permohonan langsung dari pemilik majmuah (pemondokan) di Makkah dan Madinah, melainkan lewat calo.

"(Kalau enggak lewat calo) nggak bisa," kata Hasanuddin bin Asmat alias Acang alias Hasan Ompong, dalam kesaksiannya untuk terdakwa Suryadharma Ali (SDA), di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (3/11).

Meski demikian, Hasanuddin menyebutkan, tidak ada aturan yang mewajibkan agar penawaran harus melalui calo atau menolak penawaran yang diajukan oleh pemilik hotel secara langsung.

"Nggak bisa saja, enggak terima, dia enggak mau. Caranya, masukkin proposal dari hotel (melalui calo, kalau) terima syukur, nggak terima juga nggak apa-apa," katanya.

Hasanuddin mulai menjalani profesi sebagai calo pemondokan atau hotel jemaah haji Indonesia di Makkah dan Madinah, mulai 2009, saat ia masih bekerja sebagai pegawai honorer di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah.

"Tahun 2009 kan masih masuk kerja, saya bilang, Pak saya punya majmuah, bisa masukkin nggak? (Dijawab) 'Bisa'," katanya menuturkan percakapannya dengan Nurul Iman Mustofa, mantan anggota Komisi VIII DPR RI asal Fraksi Partai Demokrat.

Namun demikian, Hasanuddin mengaku tidak mengetahui apa peran Nurul. Tapi yang pasti, dia bisa membantunya menggolkan nama-nama hotel atau pemondokan yang diajukannya. "(Peran Nurul) nggak tahu," ucapnya.

Selain itu, lanjut Hasanuddin, hotel yang diajukannya, berlokasi  tidak jauh dari markasia, sehingga hotel-hotel yang diajukan disetujui panitia penyelenggara haji. "Karena hotel yang lain jauh-jauh, hotel saya dekat-dekat, namanya di luar markasia, punya saya di dalam (markasia), jadi kepake," katanya.

Menurutnya, jika tanpa perantara Nurul Iman Mustofa pun, hotel-hotel yang diajukannya akan disetujui, karena pada tahun 2012, sejumlah hotel yang masuk markasia dirobohkan. "Tapi tahun 2010 enggak masuk meski lewat Nurul," katanya.


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief

Iwan Sutiawan
02-11-2015 15:32