Main Menu

Hakim Tripeni Ceritakan Detik-detik Penangkapannya oleh KPK

Iwan Sutiawan
12-11-2015 16:13

Terdakwa Tripeni Irianto Putro, Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan (GATRAnews/Adi Wijaya)

Jakarta, GATRAnews - Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta kembali menggelar sidang lanjutan kasus suap dengan terdakwa Tripeni Irianto Putro, Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan, Sumatera Utara (Sumut), Kamis (12/11).

Pada sidang kali ini, Tripeni, yang menjadi ketua majelis hakim perkara yang diajukan Kepala Biro Keuangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut Ahmad Fuad Lubis, menjalani sidang pemeriksaan sebagai terdakwa kasus suap.

Dari atas kursi pesakitan, Tripeni menceritakan detik-detik penangkapan yang dilakukan petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) di PTUN, tanggal 9 Juli 2015.

Menurutnya, penangkapan itu bermula saat anak buah OC Kaligis, M Yagari Bhastara Guntur alias Gary, tiba-tiba memasuki ruang kerjanya di PTUN Medan, sekitar pukul 09.30 WIB.

"Sekira pukul 09.30 WIB, ada masuk saudara Gary, saya tak mengundang, tiba-tiba datang. Dia bilang bawa ucapan terima kasih dari Pak OC (Otto Cornelis Kaligis)," tutur Tripeni.

OC Kaligis memberikan amplop sebagai ucapan terima kasih itu. Gary meletakkan amplop tersebut dan mengatakan, hanya menjalankan perintah dari sang bos OC Kaligis.

"Gary langsung meletakkan di atas kursi, sambil mengatakan, 'Saya hanya melaksanakan tugas dari OC Kaligis', dan dia (lalu) ke luar," ujarnya.

Walaupun mengaku sempat menolak "amplop terima kasih" dari OC Kaligis setelah memutus perkara yang diajukan Fuad, di mana OC Kaligis dan Gary merupakan kuasa hukumnya, terdakwa Tripeni memasukkan amplop itu ke dalam tasnya.

"Tak berapa lama, kemudian KPK datang, dia tanya Gary bawa apa? Saya bilang bawa amplop. Kemudian saya turun, Gary di bawah. Setelah itu saya ke luar, menuju Polsek," kata Tripeni.

Dalam perkara ini, jaksa penuntut umum dari KPK mendakwa Tripeni Irianto Putro didakwa menerima duit US$ 15,000 ribu dan SGD 5,000 dari Gubernur nonaktif Sumut Gatot Pujo Nugroho dan Evy Susanti melalui Otto Cornelis Kaligis dan Moh Yagari Bhastara Guntur (Gary).

Duit itu merupakan suap agar mengabulkan perkara yang diajukan Fuad terkait permohonan pengujian kewenangan Kejaksaan Tinggi Sumut atas penyelidikan tentang dugaan terjadinya tindak pidana korupsi dana bantuan sosial (Bansos) yang diajukan ke PTUN Medan.

Atas perbutan itu, dakwa mengancam dengan pidana penjara sebagaimana diatur dalm Pasal 12 huruf c atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief

Iwan Sutiawan
12-11-2015 16:13