Main Menu

Dijanjikan Jadi Pegawai Negeri, 60 Orang Tertipu Rp 4 miliar!

Nur Hidayat
16-02-2016 17:25

Salah satu foto terduga penipu masuk pegawai negeri di Jambi (GATRAnews/dok)

Jambi, GATRAnews - Sudah dua tahun terakhir, Diah, 49 tahun. seorang bidan di Kabupaten Merangin depresi. Akibatnya, tensi darah melonjak. Setiap hari dia harus minum obat untuk menahan tekanan darah tinggi. “Kalau tidak, tensi saya bisa sampai 200. Soalnya handphone saya selalu berbunyi setiap hari menagih pengembalian uang sejumlah Rp 4 miliar. Ada yang nagih bawa aparat, dan macam-macam. Saya mau ganti pakai apa? Mana ada saya uang sebanyak itu! Suami saya bahkan terkena stroke gara-gara ini,” katanya dengan wajah gelisah kepada Gatranews.com, Selasa (16/2).

Diah mengaku ini semua gara-gara ulah koleganya bernama Tajuddin – seorang pensiunan pegawai negeri di Kabupaten Merangin. Tajuddin bilang, ketiga temannya masing-masing: Rudiansyah alias Edi Junaidi (44), Dian Aziani (46) binti M. Zaini, dan Eviriani (36) binti Asril Ramli bisa memasukkan sebanyak-banyaknya orang menjadi pegawai negeri di Pemerintah Provinsi Jambi.

Tetapi tentu saja tidak gratis. Tarifnya beragam. “Untuk lulusan strata 1 sebesar Rp 150 juta, lulusan diploma 3 Rp 100 juta dan untuk jenjang SLTA dengan tarif Rp 80 juta,” ujar Diah menirukan ucapan janji ketiga pelaku.

Diah mengaku paling sering berkomunikasi dengan Dian. “Saya percaya karena mereka menyebut beberapa nama pejabat teras di Provinsi Jambi. Mereka juga berpakaian pegawai negeri sipil,” kata Diah.

Sejak saat itu, Diah menyebarkan informasi tersebut kepada rekan-rekan serta kerabatnya yang berminat, dengan syarat menyetor sejumlah uang. “Ada yang telah bayar penuh, separuh, bahkan baru bayar panjar. Semua tertera dalam kuitansi, perjanjian, serta bukti-bukti transfer kepada para pelaku,” Diah bertutur.

Setelah uang total Rp 4 miliar disetor, para pelaku memberikan Surat Keputusan (SK) PNS. Diah lantas berangkat ke Jakarta mengonfirmasikan ke Badan Kepegawaian Negara (BKN). “Silahkan temui Bapak Ramli (Petugas BKN Pusat Jakarta-red) untuk kejelasannya,” ujar Diah kembali menirukan paparan ketiga pelaku.

Berdasarkan petunjuk tersebut, Diah pun pergi ke Jakarta untuk menemui Bapak Ramli. Namun ternyata, di kantor BKN tak ada pegawai bernama Ramli. Barulah Diah sadar telah tertipu, SK CPNS yang diberikan adalah SK palsu. “Saya sempat bimbang. Para pelaku mengancam, jika saya melaporkan kasus ini ke polisi, uang kami tidak kembali. Di sisi lain saya merasa tertekan karena 60 orang itu terus menerus menagih kepada saya untuk mengembalikan uangnya,” kata Diah.

Pertemuan demi pertemuan dengan ketiga terlapor berulangkali digelar. Begitu pula perjanjian berulangkali dibuat. Bahkan terakhir, para terlapor meneken perjanjian akan mengembalikan uang para peserta tertanggal 8 Februari 2016. Karena secara terus menerus dijanjikan oleh ketiga pelaku dan tekanan dari para peserta, akhirnya Diah melaporkan ke Polda Jambi pertanggal 16 November 2015, dengan nomor LP STPL/367/XI/2015/Jambi/SPKT.

Seminggu kemudian atau per tanggal 23 November, pihak Polda memberitahukan hasil laporannya bahwa akan dilakukan langkah penyidikan atas laporan tersebut. Berikutnya, pertanggal 21 Desember 2015, pihak Polda kembali memberitahukan tentang hasil perkembangan penyelidikannya. Dalam laporan hasil penyelidikan diketahui bahwa pihak terlapor atas nama Dian Aziani dan Eviriani telah diperiksa.

Pihak Polda Jambi mengakui belum menetapkan satupun tersangka, mengingat korban cukup banyak dan belum semuanya dimintai keterangan. “Kita memang mesti teliti dalam kasus ini. Setelah digelar perkara pada 2 Desember 2015, kasus ini telah memenuhi unsur pidana penipuan pasal 378 KUHPidana. Sekarang kasus ini sudah ditingkatkan ke tahap penyidikan,” kata Kasubbid Penmas Bidang Humas Polda Jambi, Kompol Wirmanto.


Reporter: JSI

Editor: Nur Hidayat

Nur Hidayat
16-02-2016 17:25