Main Menu

Jaksa Agung: AS dan BW Punya Andil Besar Berantas Korupsi

Iwan Sutiawan
03-03-2016 20:30

Mantan Ketua KPK Abraham Samad (GATRAnews/Adi Wijaya/Adi3)

Jakarta, GATRAnews - Jaksa Agung H Muhammad Prasetyo di Kejaksaan Agung (Kejagung), Jakarta, Kamis (3/3), menilai Abraham Samad (AS) dan Bambang Widjojanto (BW) mempunyai andil besar dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi, selama menjadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menurut Prasetyo, hal itu menjadi salah satu pertimbangan mengesampingkan perkara tindak pidana yang dituduhkan kepada AS dan BW yang saat itu masing-masing menjabat Ketua dan Wakil Ketua kPK periode 2011-2015.

"Yang dituduhkan kepada yang bersangkutan, kedua-duanya menyangkut tindak pidana umum, bukan korupsi. Kedua-duannya dikenal sebagai pimpinan KPK yang selama penugasannya telah banyak berhasil ungkap kasus-kosus korupsi di negara kita ini," tuturnya.

Selain menjabat sebagai komisioner KPK, baik AS dan BW merupakan aktivis dan pegiat antikorupsi. "Sodara Bambang Widjojato adalah pernah menjabat Ketua Lembaga Bantuan Hukum DKI Jakarta," ujarnya.

Atas upayanya mencegah dan memberangus rasuah itulah masyarakat memberikan apresiasi dan dukungan, serta kepercayaan yang tinggi terhadap integritas AS dan BW.

"Mereka berdua mendapatkan apresiasi, pujian, dan dukungan serta kepercayaan dari masyarakt luas ketika menjabat sebagai Ketua dan Wakil Ketua KPK," ucapnya.

AS dan BW juga mempunyai jaringan yang sangat luas di kalangan masyarakat pengiat antikorupsi, dan hingga saat ini, mereka juga masih memengang komitmen yang kuat untuk tetap aktif dalam upaya mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi di negara ini.

"Kepada sodara Abraham Samad dituduhkan telah melakukan tindak pidana tahun 2007 lalu. Sementara Bambang Widjojanto, dituduhkan telah melakukan tindak pidana pada bulan Juni 2010," kata Prasetyo.

Sebelumnya, Polri menetapkan Abraham Samad sebagai tersangka kasus pemalsuan dokumen kartu tanda penduduk Feriyani Liem, warga Pontianak, Kalimantan Barat, pada tahun 2007.

Abraham Samad menjadi tersangka, setelah KPK menetapan Komjen Pol Budi Gunawan sebagai tersangka korupsi. Pasalnya, Abraham Samad memasukkan Feriyani ke dalam kartu keluarga milik Abraham Samad yang beralamat di Masale, Panakkukang, Makassar, Sulawesi Selatan.

Atas perbuatan tersebut, Polri menyangka Abraham Samad melanggar Pasal 263 Ayat (1) juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP subversif Pasal 264 Ayat (1) juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP subversif Pasal 266 Ayat (1) juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 93, 94, 97 UU Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan.

Sedangkan BW, Bareskrim Mabes Polri menetapkannya sebagai tersangka kasus dugaan menyuruh saksi memberikan keterangan palsu dalam sidang sengketa Pilkada di Mahkamah Konstitusi (MK) tahun 2010.

Saat itu, BW merupakan kuasa hukum dari calon bupati Kotawaringin Barat, Ujang Iskandar, yang menggugat kemenangan Sugianto Sabran dan MK mengabulkan permohonan Ujang.

Atas perbuatan itu, penyidik Bareskrim Polri menyangka BW melanggar Pasal 242 Ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-2 KUHP juncto Pasal 56 ke-2 KUHP dan atau Pasal 266 Ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-2 KUHP juncto Pasal 56 KUHP.


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief

Iwan Sutiawan
03-03-2016 20:30