Main Menu

Kejagung Periksa Pemenang Lelang Mal Barat Grand Indonesia

Iwan Sutiawan
09-03-2016 08:59

Kejaksaan Agung (GATRA/Dharma Wijayanto/HR02)

Jakarta, GATRAnews - Kejaksaan Agung (Kejagung) memeriksa Direktur PT Totalindo Eka Persada, Donal Sihombing, sebagai saksi skandal korupsi kerja sama pemanfaatan lahan pembangunan Menara BCA dan Apartemen Kempinski di luar perjanjian.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Amir Yanto, di Jakarta, Rabu (9/3), mengatakan, pada pemeriksaan Selasa kemarin, penyidik pidana khusus menggali keterangan tentang kronologi pelaksanaan lelang sejumlah renovasi dan pembangunan yang diselenggarakan PT Grand Indonesia (GI).

"Kronologis pelaksanaan pelelangan yang diselenggarakan oleh PT Grand Indonesia untuk kegiatan renovasi Hotel Indonesia, pembangunan east mall, gedung perkantoran, apartemen, west mall, dan perparkiran," tuturnya.

Penyidik memeriksa Donal sebagai saksi, karena PT Totalindo Eka Persada merupakan pemenang lelang pembangunan mal barat (west mall) Grand Indonesia dan area parkir.

Sementara dua saksi lainnya, yakni Direktur PT Grand Indonesia, Fransiskus Yohanes Hardianto, dan seorang Direktur PT Nusa Konstruksi Injenering tidak memenuhi panggilan penyidik tanpa keterangan alias mangkir.

Kejagung telah meningkatkan kasus ini ke penyidikan karena pembangunan Menara BCA dan Apartemen Kempinski di luar kontrak yang diteken antara BUMN PT Hotel Indonesia Natour (HIN) dan PT Cipta Karya Bumi Indah (CKBI) serta PT GI.

Adapun isi kontrak kerja sama yang diteken itu, hanya menyebutkan pembangunan hotel bintang lima, pusat perbelanjaan I dan II, serta fasilitas parkir. Di dalam kontrak tidak menyepakati pembangunan Menara BCA dan Apartemen Kempinski.

Kerja sama tersebut menggunakan sistem Builtd, Operate, and Transfer (BOT) atau membangun, mengelola, dan menyerahkan. Ini merupakan bentuk hubungan kerja sama antara pemerintah dan swasta dalam rangka pembangunan suatu proyek infrastruktur.

Pada tahun 2004, PT Cipta Karya Bumi Indah telah membangun dan mengelola gedung Menara BCA dan Apartemen Kempinski yang tidak ada dalam perjanjian BOT antara kedua belah pihak.

Akibatnya, diduga tidak diterimanya bagi hasil yang seimbang atau tidak diterimanya pendapatan dari operasional pemanfaatan kedua bangunan tersebut, sehingga mengakibatkan kerugian negara sekitar Rp 1.290.000.000.000 (Rp 1,2 trilyun).


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief

Iwan Sutiawan
09-03-2016 08:59