Main Menu

Polda Papua Buru 21 Nama Terkait Kelompok Kriminal Bersenjata

Andhika Dinata
02-12-2017 11:29

Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar. (Antara/Sigid Kurniawan/AK9)

Papua, Gatra.com- Kapolda Papua, Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar mengatakan Tim Satgas Terpadu akan melakukan pengejaran serta pencarian terhadap gembong pimpinan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

 

KKB terang Boy terus menekan serta melakukan aksi intimidatif dengan menembak mobil patroli di sekitar areal obyek vital PT. Freeport Indonesia. Aksi penembakan itu beberapa kali melukai dan menyasar korban dari beberapa anggota personil Brimob yang bertugas. 

 

Kelompok KKB ini juga dikenal sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat dari Organisasi Papua Merdeka (TPNPB/OPM). Dalam pemantauan polisi, terdapat beberapa nama yang masih tersangkut dengan OPM, mereka juga sebelumnya mempunyai rekam jejak kriminal masa lalu.

 

Kepolisian menetapkan sembilan orang personil yang disinyalir tersangkut dengan aksi kriminal pembunuhan dan perampasan senjata api (senpi) pada 1 Januari 2015. Mereka di antaranya adalah Guspi Waker, Ando alias Silauga Magay alias Kelabua, Bibir Waker dan kawanannya.

 

Peristiwa penculikan Senpi terjadi di Kampung Utikini Distrik Tembagapura, Timika, Papua. Kelompok kawanan terafiliasi OPM itu menyerbu personil Brimob yang bertugas di kawasan tersebut serta merampas dua pucuk senpi jenis Steyr dan 125 butir amunisi kaliber 5,56 mm. Kejadian itu menyebabkan dua personil Brimob meninggal dunia, serta menewaskan seorang security jaga di PT. Freeport Indonesia.

 

Pada 2017, Kepolisian kembali memburu 21 nama yang terjaring dalam aksi Kelompok Kriminal Bersenjata. Mereka antara lain: Sabinus Waker, Guspi Waker, Ayuk Waker, Ferry Elas, dan kawanannya.

 

Kawanan kelompok ekstrimis ini melakukan penembakan terhadap kendaraan PT. Freeport dan patroli keamanan serta menganggu aktivitas perusahaan PT. Freeport Indonesia (FI) dan keamanan masyarakat di Distrik Tembagapura Kab. Mimika.

 

Kontak senjata itu dilakukan oleh kelompok KKB pimpinan Sabinus Waker yang bermarkas di Bukit Sangker Kampung Uini Papua. Kawanan ini menggiatkan aksi penembakan di areal PT. FI.

 

Kepolisian lewat Tim Satgasus Polda Papua langsung melakukan penyelidikan dan patroli di kawasan bukit tersebut, sehingga baku tembak terjadi sehingga mengakibatkan jatuhnya korban personil Brimob Briptu Berry Permana Putra.

 

Aksi kekejaman KKB pimpinan Sabinus waker tidak hanya melakukan kejahatan penembakan terhadap kendaran PT. FI, aparat dan warga masyarakat saja. Tetapi juga melakukan pemerkosaan, merampok barang serta menjarah dan membakar kios masyarakat. 

 

Aksi KKB memuncak setelah menguasai kampung Utikini, Kimbeli dan Banti serta menutup akses masyarakat keluar masuk ke tiga kampung tersebut. Kelompok ini juga melakukan pengawasan 1x24 jam serta mengintimidasi warga yang berusaha keluar dari kampung tersebut.

 

Dari informasi yang dihimpun oleh Tim Satgas Gabungan terhitung sejak 5 Oktober hingga November ini tercatat 1.300 warga terisolasi di wilayah tersebut. Sejumlah tiga ratusan warga berasal dari suku pendatang (Toraja, Bugis, Jawa, Timor dan Buton). Mereka disinyalir mengalami krisis bahan makanan.

 

Kapolda Papua Boy Rafly Amar menyebutkan pihaknya akan terus bekerja serta memburu personil KKB yang masuk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang). Operasi pengejaran itu, terang Boy, dilakukan oleh Tim Satgas Gabungan TNI-Polri yang jumlahnya 200 orang.

 

Selain itu aparat gabungan TNI Polri yang kini disiagakan untuk pengamanan dan evakuasi warga berjumlah 1400 personil. “Kepada mereka tetap kita lakukan pengejaran agar ke depan tidak ada lagi korban dan intimidasi yang dialami masyarakat Kimbeli dan Banti,” ujar Boy.

 

Aparat mengukur kekuatan kelompok KKB yang berkisar 100-an orang. Sumber GATRA yang tergabung dalam Satgas Gabungan menyebutkan perkiraan kekuatan anggota KKB/TPN/OPM bila dihimpun berkisar 355 orang. Sementara jaringan aktif saat ini menurut sumber itu hanya berkisar 100-an orang dipimpin Ayub Waker.

 

Sementara kelompok lain masih tersebar di wilayah Kalikopi, Nabire/Narotali, Lanijaya, seperti kelompok OPM pimpinan Venimuri dan Goliat. Kelompok KKB/TPN/OPM ini mempunyai kekuatan senjata api campuran: AK 47, M 16, Minimi, Stayer (hasil rampasan Brimob) double lock, US Carabean, SP, garen, Revolver, serta FN. Side Shower.

 

Lainnya memegang senjata tradisional seperti panah, parang, tombak. “Semuanya tergabung dalam OPM, tidak hanya kelompok Waker saja,” ucap Sumber itu.

 

Boy Rafly menyebutkan selama operasi yang dilakukan Satgas, pentolan KKB memilih untuk mundur serta bersembunyi menghindari pengejaran aparat. “Mereka kabur, banyak yang pulang kampung”. Namun begitu Satgas selalu melakukan deteksi terhadap aktifitas kelompok ini.

 

“Jadi dengan langkah-langkah mereka selama ini kita harus lakukan aktifitas (operasi) secara berkesinambungan, karena kita yakin mereka akan terus melakukan upaya-upaya yang meresahkan,” tandas Boy kepada GATRA. Oleh karena itu, pihaknya sudah menerbitkan DPO agar masyarakat dapat mengenal dan melakukan deteksi terhadap personil yang tersangkut OPM.

 

Banyak spekulasi yang menyebutkan mencuatnya teror KKB di Bumi Timika dipicu motif ekonomi. Kawasan Tembagapura, Timika dikenal sebagai ladang emas yang bersisian dengan areal obyek vital PT. FI. Beberapa kilometer dari wilayah ini terdapat tambang emas ilegal milik masyarakat, yang kini juga turut dikelola oleh masyarakat pendatang (non Papua).

 

Hal ini memicu kemarahan kelompok OPM yang mengklaim menguasai wilayah tersebut. Sebagai gantinya, mereka melakukan teror dan pelarangan bekerja terhadap 300-an warga non Papua yang menambak emas di kawasan itu. Ini lalu menjadi pemantik konflik yang berujung pada penembakan beruntun di kawasan yang berjarak selemparan batu dari PT. FI tersebut.

 

Boy Rafly ketika dikonfirmasi menyebutkan aksi kekerasan yang dilakukan KKB tergambar dari serangkaian peristiwa kriminal yang dilakukan. Boy menyebut motif ekonomi tetap menjadi pemicu menguapnya api konflik dan sentimen gerakan KKB terhadap masyarakat setempat.

 

“Mereka para warga ada yang dirampok, dijarah barang-barangnya, HP nya disita dengan cara-cara kekerasan”, katanya. Namun terkait dengan motif lain-lain yang ikut menjadi irisan dalam peristiwa tersebut, pihak aparat menurutnya masih melakukan pendalaman.**

 


 

Reporter : Andhika Dinata

Editor : Birny Birdieni

 

 

 

Andhika Dinata
02-12-2017 11:29